Kisah Perjalanan - Menampung cerita-cerita perjalanan anggota stapala dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. dan cerita perjalanan lain yang menarik, menambah wawasan, dan memunculkan ide. Cerita dapat dikirim ke webmaster, jangan lupa dilampirkan foto biar tambah menarik

Thursday, September 01, 2005

17 AGustus di Gunung Semeru

Pendakian Perpisahan
Rabu, 14 Agustus 1991
Tim Ekspedisi tebing parang baru pulang. Perlengkapan pendakian dapat pinjam. Kami, saya,Difai, Ating,Sari, kumpul di posko. Kami berencana mendaki gunung Semeru. Merayakan proklamasi kemerdekaan. Upacara 17 agustus di mahameru terkenal di kalangan pendaki, khususnya di pulau jawa. Pras sudah berangkat membeli tiket kereta api. Jam 09.30 kami berangkat dari kampus Jurangmangu. Gustav yang baru wisuda kemudian ikut. Pras dan teman-temannya berhasil memperoleh tiket duduk. Asiik, padahal penumpang lagi banyak-banyaknya. Sekarang sedang musim libur anak sekolah. Kami baru saja menyelesaikan tugas-tugas berat, Prajab,panitia penerimaan mahasiswa baru serta ekspedisi tebing parang. Saya dan pras mengantar Difai, Ating, dan Sari yang ingin mendaki gunung semeru sebagai perpisahan. Ya, mereka drop out. Suatu pukulan telak bagi kami, anggota stapala. Mereka adalah anggota yang punya loyalitas dan dedikasi tinggi. Rencana saya mendaki tujuh gunung tertinggi di Jawa ( seven javanesse ) bersama difai kandas. Kereta api gaya baru berangkat dari Gambir jam 12.15 WIB. Penumpang penuh sesak. Tak ada yang bisa dikerjakan di kereta. Saya mengahabiskan buku "Rajawali Sungai Huai" ( Kho Ping Ho ) punya ating.

MALANG, BERSIH DAN INDAH
Kamis, 15 Agustus 1991
Kami turun di Stasiun Wonokromo, jam 06.30. Kata gustav, lebih dekat bila ingin ke terminal bus Bungur asih. Suasana terminal ternyata jauh dari bayangan kami semua. Bungur asih bagus sekali dan tertib.Tak ada kesan rawan seperti terminal-terminal bus di jakarta. Gustav pulang ke sidoarjo, sementara kami langsung ke malang. Surabaya - malang, kami tempuh dengan menumpang bus AC yang ongkosnya Rp.1.300. jarum jam belum menunjuk angka sembilan ketika kami tiba di Malang. Indah sekali kota malang. Hawanya sejuk dengan semilir angin pagi yang dingin. Aku terkesan dengan jalan-jalan yang rimbun dengan pohon. Dengan Mikrolet Line H ( jurusan Dinoyo ) kami menuju rumah Johanes, rekan stapala yang sedang pulang kampung. Rumahnya di Jalan bendungan bening, belakang kampus Institut teknologi nasional. Johanes dan orang tuanya menyambut dengan ramah. Kami menikmati suasana yang familiar. Malam hari kami ke tengah kota malang. Jalan-jalan sambil berbelanja kebutuhan pendakian. Johanes memutuskan untuk ikut pendakian.

PENUMPANG YANG DITUNGGU-TUNGGU
Jumat, 16 Agustus 1991
Pagi-pagi sekali ( jam 06.30 ) kami meninggalkan rumah Johanes. Udara masih dingin. Di depan kampus ITN sedang ada Ospek mahasiswa baru. Ada kejadian lucu. Salah seorang mahasiswa memberi salam dengan teriakan " salam rimba ". Perlu diketahui, salam tersebut dijadikan salam resmi acara pekan penghijauan kampus Stan prodip. Sedangkan kami adalah panitia kegiatan. Mungkin mahasiswa tersebut sempat ikut kegiatan kami. Diterminal Tumpang, banyak jeep terbuka yang siap membawa para pendaki ke gunung semeru. Beberapa hari ini ratusan pendaki menuju gunung semeru. Ada acara tahunan yang terkenal di kalangan para pendaki, upacara 17 agustus. Kebetulan pada bulan agustus tidak ada hujan. Cerah sekali. Jeep menunggu penumpang penuh. Aku menyempatkan mampir di rumah penduduk, dekat terminal, tempat aku dulu pernah menginap. Sekalian mengantar sari yang bingung mencari toilet. Ketika hari makin siang, jeep belum juga berangkat. Sopirnya memastikan untuk menunggu satu orang penumpang lagi. Lagi - lagi ada kejadian lucu. Iye tiba-tiba muncul. Ia jadi penumpang terakhir yang memenuhi kuota jeep. Iye cerita, ia memang berencana ikut tapi harus ikut ujian penerimaan mahasiswa baru ITB. Memang, rekan kami ini juga menjadi korban drop out. Temanku satu kelas. Jeep menuju Ranupane menembus jalur pegunungan yang berdebu. Untung aku duduk dekat sopir. Di Ranupane kami tinggal melapor dan makan siang. Johanes telah mengurus perijinan selama di malang. Ranupane adalah desa terakhir dengan pemandangan yang indah. Terdapat danau ranupane dekat pos PHPA.Jam 14.00 Kami mulai pendakian ke gunung semeru. Perjalanan awal menuju danau ranukumbolo ditempuh dengan cepat. Jalur pendakian yang datar memang enak sekali untuk jalan. Apalagi pemandangannya sangat membosankan. Tak ada alasan untuk berlama-lama. Dalam 2,5 jam kami tiba di Ranukumbolo. Prestasi yang cukup mengagumkan. Hari mulai gelap.

MALAM MEMBEKU DI RANUKUMBOLO
Pondok pendaki penuh sesak. Kami tidak bisa ikut tidur di dalam. Terpaksa kami membuka tenda di pinggir danau. Untungnya air danau sedang surut. Di ranukumbolo gustav berhasil menyusul kami. Tendanya johanes ternyata tidak cukup besar untuk menampung 7 orang. Tanda-tandanya sebagian harus diluar tenda. Aku, iye, dan gustav mengelar matras di luar. Kalau tidur di luar dapat hadiah sleeping bag. Nggak ada masalah, sekarang musim panas. Nggak mungkin turun hujan. Malam hari kami bernyanyi - nyanyi duduk melingkari api unggun. Difai merekam semuanya. Malam semakin kelam. Permukaan danau mulai tertutup kegelapan bercampur kabut. Aku dan Iye tidur dekat api unggun. Hujan ternyata memang tidak turun, tapi ada problem lain. Udara di luar tenda amat sangat dingin. Belum pernah aku merasakan dingin sedingin malam ini. Jaket serta sleeping bag sia-sia menahan dingin. Sampai-sampai iye tidak merasa kalau matrasnya terbakar. Aku betul-betul merapat ke api unggun. Gustav yang terkenal berkulit badak tidak tahan, menyeruak masuk tenda. Ia memang tidak pakai sleeping bag. Perilaku gustav tentu saja menandakan suhu sudah sedemikian rendah. Gustav teriak, termometernya menunjukan angka nol derajat. Pantes. Permasalahan diselesaikan dengan mengikuti gustav, masuk tenda.

PROKLAMASI KEMERDEKAAN
Sabtu, 17 Agustus 1991
Selamat hari Ulang tahun Indonesiaku…… Permukaan danau tampak tenang. Airnya keemasan terkena mentari pagi. Kabut yang berangsur naik menambah keindahan. Kami kemarin memutuskan untuk tidak jadi ikut upacara di puncak. Terlalu banyak orang di puncak. Waktu pun sudah sangat mepet.Kami mengadakan upacara sendiri. Ditepi danau nan indah. Ating, mengucapkan proklamasi pelapasan dirinya, difai, iye, dan sari dari STAN PRODIP. Difai merekam dengan tape recordernya. Aku, pras, Johanes, dan Gustav menyaksikan. Menggelikan sekaligus mengharukan. Ada nada suara rintihan di balik kerasnya suara ating. Teringat aku akan ating yang termasuk rajin diantara kami. Bahkan ketika kami sibuk diluar selama prajab, ia yang selalu mengabsenkan. Kadang memang nasib yang berbicara.Sebaliknya Gustav berfoto-foto dengan toga wisuda. Jam 10.00 Kami meninggalkan danau ranukumbolo. Aku sempat bertemu Ekki, temanku sewaktu di Trupala SMA 6 jakarta. Kami mendaki bukit ayak-ayak, melintasi padan rumput oro oro ombo, hutan pinus jambangan menuju kalimati. Entah kenapa, langkah kaki terasa ringan sehingga dapat berjalan cepat. Hanya johanes yang berjalan agak lambat. Maklum ia membawa berliter-liter air. Sejak dari jambangan kami mulai bertemu pendaki-pendaki yang baru turun dari puncak. Mereka baru saja selesai upacara 17 agustus. Perjalanan di anggap kurang tepat. " coba mas Datang kemaren, rame mas !" kata meraka Padahal karena alasan yang sama kami memilih untuk tidak ikut upacara. Aku sendiri tidak suka mendaki pada waktu yang terlalu ramai. Apa bedanya gunung dengan pasar. Shelter kalimati yang luas penuh dengan tenda pendaki. Ratusan pendaki baru saja dari puncak. Wajah-wajah sangar tapi ramah menyambut kami. Hanya sebentar di Kalimati, kami melanjutkan ke Arcopodo. Jalur pendakian mulai menanjak terjal. Sejak hari pertama kami selalu menjumpai jalur yang sebagian besar datar. Sekaranglah kaki mulai bergetar. Jalur yang berat diperburuk oleh ratusan pendaki yang turun dari puncak. Sempitnya jalur membuat kami harus mengalah. Di tepian jalur pendakian kami tengkurap, melindungi diri dari debu yang beterbangan. Arcopodo tidak begitu luas. Dataran ini terlindungi oleh pohon-pohon pinus. Para pendaki yang semalam menginap di sini mulai membongkar tenda. Kami datang tepat pada waktunya. Pesan yang mereka tinggal adalah " hati-hati mas, tadi malam suhunya minus dua derajat !". Gile, gimana ya rasanya. Terbayang dinginnya suhu ketika menginap di danau ranukumbolo. Ini bakalan lebih parah. Matahari terbenam di arcopodo menghadiahkan pemandangan yang indah sekali. Matahari yang perlahan tenggelam menimbulkan kombinasi warna kuning merah yang indah. Difai dengan begitu bernafsu naik ke pohon pinus untuk memotret. Aku kebagian menjaga di bawah.The Beautiful sunset. Malam hari ternyata tidak sedingin yang kami duga. Suhu menunjukan sepuluh derajat. Biasa. Kami membuat rekaman iklan-iklan untuk acara pelepasan ajun stapala bulan depan. Banyak ide segar muncul pada saat seperti ini.

MENGGAPAI PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA
Minggu, 18 agustus 1991
Jam 02.00 Kami sudah bangun tidur. Persiapan pendakian ke Puncak. Johanes memilih untuk tinggal di tenda, tidak ikut ke puncak. Mungkin ia sudah terlalu sering ke gunung semeru. Kebetulan, bisa menunggu ransel-ransel yang kami tinggal. Untuk ke Puncak yang dibawa hanya day pack berisi makanan minuman ringan. Jam 04.00 kami mulai pendakian. Udara begitu dingin. Sementara jalur pendakian begitu terjal. Senter sangat berperan disaat seperti ini. Cahayanya menentukan langkah berjalan. Kami melintasi penggungan sempit yang rawan longsor. Jalur ini sering memakan korban. Beberapa pendaki yang meninggal di buatkan tugu peringatan. Mengingatkan kami untuk lebih hati-hati.Tidak lama kemudian kami tiba di cemoro lawang. Perbatasan hutan dengan jalur pendakian terbuka yang bermedankan pasir. Jalur pendakian menjadi lebih berat. Langkah kaki kami sering sia-sia. Terperosot karena pasir yang sangat halus. Perlu mental kuat melintasi jalur berpasir. Kegelapan berangsur-angsur sirna. Diufuk timur, kemilau cahaya mulai menerpa. Terbitnya matahari menghamparkan pemandangan yang menakjubkan. Warna-warni gradasi merah kuning ungu menghiasi langit berpacu dengan kerlap-kerlip bintang. Lukisan sang Kuasa, tak ada yang mengalahkan. Indah mempesona. Sementara kerlap-kerlip cahaya lampu terhampar pula di bawah kami. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata. Seimbang dengan jalur pendakian sangat berat dan udara yang begitu dingin. Pendakian medan terjal yang sangat berat berakhir pukul 08.00. Kami tiba di puncak gunung semeru. Sepi tanpa pendaki. Kemarin, tempat ini penuhi ratusan pendaki. Puncak luas berpasir ditandai oleh tugu triangulasi dan kibaran bendera merah putih. Selain itu juga bongkahan batu peringatan meninggalnya Soe Hik Gie, pendiri mapala UI. Dari puncak tertinggi di pulau jawa ini dapat dilihat puncak-puncak gunung di jawa Timur serta pantai laut selatan. Semua masih diselimuti kabut. Cuaca memang sudah berubah. Tidak secerah saat matahari terbit. Gustav membuat foto wisuda lengkap asesoris wisudanya. Kami sempat berfoto dengan latar belakang letusan gunung. Gunung semeru memang aktif mengeluarkan letusan-letusan kecil setiap 20-30 menit. Obyek foto yang bagus. Puas, aku bisa menebus kegagalan mencapai puncak semeru setahun yang lalu. Jam 09.00 turun dari puncak. Jalur terjal berpasir ternyata begiru cepat dilalui. Waktu naik membutuhkan 4 jam, turunnya cuma 20 menit. Nggak perlu pakai tenaga, cukup duduk dan merosot. Asiikkk. Setelah packing barang-barang yang ditinggal di Arcopodo, kami langsung turun menuju ranupane. Kurang lebih jam 5.00 sore kami tiba di Pos PHPA Ranupane. Perjalanan dari Arcopodo hanya diselingi istirahat di Ranukumbolo. Lumayan ngebut. Dari Ranupane jeep menembus kegelapan malam menuruni bukit-bukit. Walau sempat ganti ban dan nyaris jatuh ke jurang, kami selamat tiba di Tumpang jam 08.00. Satu jam kemudian kami sudah mandi air hangat di rumah Johanes. Selanjutnya …..nge-truf.

Gunung Rinjani, Perjalanan Akhir Tahun


ANTRI TIKET KERETA
Senin, 24 Desember 1990
Ogun, Jenderal ke rumah. Kumpul sama dedi, iye yang memang nginep dirumah. Semua barang sudah dipacking tadi malam. Semua siap berangkat. Jam 06.00 semua sudah sampai di gambir, numpang Didi yang nganter bokap. Langsung kami ambil posisi di areal loket . Antri paling depan.Ternyata loket baru buka jam 11.00. Waktu menunggu yang amat panjang, tersiksa.. Didepan loket kami harus bertarung melawan calo-calo yang punya banyak cara untuk menyerobot posisi . Perjuangan mendapatkan tiket Rp.7.700,-. Kami semua harus ikut antri karena ada aturan satu orang dua tiket. Padahal sebagian rombongan harus ikut pelepasan ekspedisi Mt.Cook di Kampus Purnawarman. Mereka, Ating,edjo,Difai, baru datang setelah antrian begitu panjang. Tugas mereka mengangkut ransel-ransel di sebelah antrian. Mengamankan dari tangan-tangan iseng. Tiket duduk akhirnya bisa didapat. Prestasi yang cukup membanggakan jika dilihat banyaknya saingan. Kami dapat duduk di gerbong paling belakang. Kumpul bareng-bareng. Jam 12.15 tepat kereta meninggalkan Jakarta. Bye-bye……. Perjalanan jauh terasa menyenangkan, walau gerah banget dan kereta penuh sesak. Aktivitas tidak pernah mati mulai maen gaple, rekaman, foto-foto sampai makan nasi bungkus bareng, tapi yang paling seru tentu aja ajang cela-celaan. Celaan paling seru terjadi setelah kami semua tahu Iye salah beli tiket. Ternyata yang dibeli tiket Solo,bukan surabaya…… He..he…he….untung nggak diperiksa.
MELINTASI PULAU BALI
Selasa, 25 Desember 1990 Pagi-pagi, sekitar jam 06.30 kami semua turun di Stasiun Wonokromo. Gustav, senior stapala yang asli Suroboyo sudah menunggu. Ia nggak jadi ikut karena harus ikut final lomba keroncong di Jakarta. Rekan ini memang terkenal buaya keroncong. Masalah lain adalah rumah gustav ternyata kebanjiran. Sekarang memang musim hujan. Selanjutnya Gustav ngajak kami ke Posko HIMAPALA IKIP Surabaya. Dahulu gustav sempat kuliah di IKIP dan menjadi anggota Himapala. Kami disambut dengan mesra di Himapala. Khas pertemuan antar anak-anak pencinta Alam. Kampus Ikip terasa sepi, sedang libur natal dan tahun baru. Setelah istirahat, kami sempatkan jalan-jalan ke Tunjungan Plaza Sore hari kami meninggalkan Surabaya. Gustav dan kawan-kawan dari Himapala mengantar sampai dengan terminal bus Bratang. Kami menumpang bus Bali cepat jurusan surabaya-Mataram. Bus yang terlihat representatif ini bertarif Rp.23.500,- Tepat jam 05.00 Bus meninggalkan terminal bratang. Acara di dalam bus adalah tidur………. Ketika menyebrang pulau ( naek ferry ) kami keluar dan foto-foto…….nggak mau rugi.

DISAMBUT CALO BIS DI TERMINAL SWETA
Rabu, 26 Desember 1990 Nikmatnya tidur berakhir ketika kami sampai diujung timur Pulau Bali, pelabuhan Padang bay. Jam menunjukan sekitar pukul 05.00 WIB atau 06.00 WIT.Bus yang kami tumpangai tidak dapat ikut menyebrang ke Pulau Lombok. Sambil menunggu waktu penyebrangan ferry ke Pulau Lombok, kami foto-foto, sarapan pagi, nongkrong-nongkrong melihat aktivitas pelabuhan. air laut menari-nari memainkan pantulan sinar matahari pagi yang kekuning-kuningan. Cukup menawan hati. Jam 09.00 WIT Ferry berangkat menuju Pulau Lombok. Kami ambil posisi di anjungan kapal, tempat paling leluasa melihat penadangan.Kebanyakan penumpang adalah turis asing. Yang lainnya paling cina…….. Gelombong laut yang semula mempesona lama-kelamaan membosankan. Penyebrangan ternyata begitu lama. Aku malah sempet tidur lagi. Di atas kapal kami sempat kenalan dengan cewek, mahasiswi Universitas Borobudur, yang sudah tiga kali ke Rinjani. Wow, kali ini dia jalan-jalan ke kalimutu. Cuma bedua dengan temannya yang juga cewek. Penyebrangan yang cukup membosankan ini berakhir pukul 12.30. Dipelabuhan Lembar kami sudah ditunggu colt L.300 milik bali Cepat yang langsung membawa ke Mataram. Dalam waktu setengah jam kami tiba di terminal bus Sweta, Mataram.Calo-calo terminal menyambut dengan gegap gempita. Seperti melihat mangsa yang masih segar-segar.wah, GR juga diperebutkan kayak gini. Kalah deh bintang film. Seorang petugas terminal yang kasihan melihat kami kebingungan menunjukan bus yang menuju Bayan. Calo-calo yang ganas sempat membuat bingung, karena ada dua pilihan ke gunung rinjani. Bayan dan Sembalun. Jalur yang paling biasa di daki adalah jalur Sembalun, sementara kami ngotot ingin mendaki lewat bayan. Mas Agus, teman seperjalanan sejak dari Surabaya, menyuruh datang ke rumahnya bila ada hal-hal yang perlu di bantu. Bus kecil yang menuju Bayan ternyata sudah hampir penuh penumpang. Walau desak-desakan kami masih dapat tempat duduk.Penumpang di sebelahku ngasih tahu beratnya pendakian ke Gunung rinjani di Musim hujan kayak sekarang. Aku lihat tampangnya serius banget. Perjalanan menyusuri pinggir pantai Lombok terasa melelahkan. Sudah tak sabar rasanya, juga sudah sangat membosankan perjalanan dari Jakarta.
POS PHPA BAYAN
Kami berhenti di bayan ( Ancak ). Sekarang jam menunjukan 17.00. Sudah sore. Ojek-ojek yang mangkal di pinggir jalan langsung menyerbu. Kami sholat ashar dulu di Masjid di Pinggir jalan. Jengkel juga melihat cara tukang ojek menawarkan tumpangan. Sebagian teman terlihat panik dengan situasi yang hampir sama dengan di terminal Sweta. Sambil istirahat di Masjid kami tanya-tanya situasi dan kondisi menuju Gunung Rinjani. Selanjutnya kami ditawarkan menumpang colt bak terbuka yang baru saja mengantar pendaki ke Gunung Rinjani. Kebetulan sekaleee. Cara bicara orang Lombok lucu, apalagi kalau bicara kata yang ada huruf "T" nya. Lidah terasa ikut ditekuk. He..he..he.. Perjalanan menanjak selama kurang lebih 15 menit membawa kita ke pos PHPA Batukoq Didepan Pondok PHPA jelas terpampang attention mengenai Gunung Rinjani. Pondok PHPA sepi nggak ada orang. Pak Made, penjaga Pos, sedang tidak ada. Sambil nunggu kami ngisi perut di warung nasi, nggak jauh dari pondok. Pak Made yang ternyata sehari-hari tinggal di pondok, mengajak untuk menginap di pondok saja. Memang, tak ada tempat lain yang nyaman kecuali di home stay-home stay yang banyak di tempati turis asing. Kegelapan kemudian menyelinap diantara rumah-rumah pedesaan yang ternyata belum tersentuh aliran listrik. Malam hari pak Made memberi tahu kalau pendakian ke Gunung rinjani ditutup sejak awal musim hujan ( bulan Oktober ). Pendakian bisa tetap dilaksanakan bila dibuat surat perjanjian. Isi perjanjian antara lain pak Made tidak bertanggung jawab apabila selama pendakian terjadi kecelakaan.Dengan demikian pendakian tetap dapat dilakukan. Dibawah cahaya lilin 2 watt kami semua menandatangani surat perjanjian. Malam hari digunakan waktu untuk mempersiapkan keperluan pendakian. Kesibukan yang paling nyata adalah packing barang. Peralatan pendakian dan ransum yang seabrek-abrek banyaknya menutupi seluruh permukaan pondok PHPA yang nggak begitu luas. Udara malam yang dingin kemudian menemani kami tidur.

PENDAKIAN BERGELIMANG HUJAN
Kamis, 27 Desember 1990
kami bangun pagi sekali. Cuaca tidak terlalu cerah.Semua perlengkapan pendakian sudah disiapkan semalam. Setelah acara buang hajat di kali dan mandi kami pamit Pak made untuk memulai pendakian.Diluar pondok tampak 3 orang pendaki dari ITS Surabaya sedang bersiap pula. Kasihan, mereka semalam tidur di luar pondok. Kami berangkat pukul 07.00. Di pinggir desa mampir di warung nasi. Perut harus di isi terlebih dahulu. Di warung ada turis asing dan guidenya. Mereka akan menuju air terjun sendang gile. Air terjun yang letaknya tidak jauh dari Desa. Guide turis memberi banyak ceramah pada. Menurut guide yang sudah berpengalaman di Gunung rinjani tersebut, pada musim hujan sangat berbahaya mendaki gunung Rinjani. " Hebat, kalian kalau bisa mencapai puncak ! " Terus terang saja, kami malah tertantang untuk mendaki. Setelah sarapan dan mendengarkan ceramah kita memulai pendakian. Tak diduga tak dinyana, tiba-tiba hujan deras turun bagai dicurahkan dari langit. Deras sekali. Tanpa menunggu waktu kami memakai ponco dan terus memulai pendakian. Limabelas menit ( jam 08.15 WIT ) kemudian dijumpai Pos Pendakian pertama. Letaknya di sebuah dusun Suku Sasak yang agak terpencil. Rumah-rumah suku sasak yang beratap daun rumbia rapat dipagari kayu. Suasana sangat sepi. Hampir seluruh penghuninya ke luar desa. Ada keterangan bahwa desa ini dilindungi dan mendapat pembinaan dari UNICEF. Di Pos pertama kami hanya menulis buku tamu. Perjalanan selanjutnya kami sempat ketemu penduduk yang pergi ke hutan. Dalam hujan deras mereka hanya menggunakan daun pisang sebagai pelindung. Jalur pendakian mulai menanjak dengan jalan setapak yang cukup lebar. Hutan tidak terlalu lebat. Tanjakan - tanjakan kecil cukup baik buat pemanasan. Perjalanan terus diiringi oleh hujan. Sesekali kami istirahat sambil menikmati udara hutan yang segar. Sekitar jam 12.00, setelah berjalan 4 jam kami tiba di pos II. Hujan masih terus mengguyur. Pos II berbentuk pondok pendaki kecil beratap, panggung, dan tidak berdinding. Walau agak rusak, Pondok ini dapat digunakan untuk meneduh. Didalam pondok ternyata sudah ada tim pendaki dari Patupala SMA 47 Jakarta. Mereka terdiri dari 4 orang ditambah 2 orang porter sekaligus guide. Mereka berangkat dari pos Batukoq tadi malam dan bermalam di Pos II. Nikmat sekali menyeruput susu panas dengan tubuh yang masih menggigil kedinginan.Kenikmatan yang ada di gunung pada musim hujan. Di Pos II kami makan siang dan berisitirahat. Cukup lama kami di pos II ( sekitar 2 jam ). Tim Pendaki ITS yang bertemu di Posnya Pak Made telah mendahului kita. Anak-anak patupala juga telah berangkat. Satu orang porter mereka, yang membawa kampak dan tubuhnya dipenuhi tatto, ternyata tidak mau melanjutkan pendakian dan memilih turun. Penduduk setempat memang masih sangat dipengaruhi mitos dan legenda gunung rinjani.Perjalanan selanjutnya dimulai. Medan pendakian tidak berubah. Masih hutan yang tidak terlalu lebat. Tanjakannya pun tidak terlalu terjal. Hanya saja hujan sudah berhenti, meninggalkan dedaunan basah dan tanah becek.

MENGINAP DI KERAJAAN MONYET
Ternyata Pos selanjutnya ( Pos III ) tidak terlalu jauh. Jam 04.00, setelah berjalan sekitar 1,5 jam, kami sampai di Pos III. Pondok pendaki kali ini cukup nyaman.Pondok panggung ini sudah komplit dengan satu kamar. Letaknya di tempat terbuka yang agak luas, Ketinggian 1.500 m dpl. Sayangnya banyak atap yang bocor sehingga air hujan yang kembali turun menyelinap ke dalam pondok. Dinding kayunya penuh dengan coretan-coretan tangan jahil. Kami langsung membooking teras pondok. Membuka tenda besar yang di bawa ating. Diputuskan untuk menginap di Pos III. Perjalanan sejak pagi cukup melelahkan. Tim pendaki dari ITS membooking kamar, sedangkan tim Patupala bersama-sama di teras. Aku sama Ogun memilih membuka tenda doom di luar pondok daripada desak-desakan di Pondok. Dekat Pos III ada sumber air di sungai kecil. Letaknya sekitar 50 meter dari pondok. Jalur ke sumber air agak curam dan licin. Malam hari diisi dengan acara makan-makan dan canda ria. Hasil rekaman suara selama perjalanan diperdengarkan kembali. Lucu juga. Acara tidur agak terganggu dengan sleeping bag yang lembab. Gangguan lain adalah anak-anak ITS yang nyanyi-nyanyi. Suaranya jauh dibawah standar pendengar.

SATU MALAM DI GUNUNG SANGKAREANG, TERSESAT
Jum'at 28 Desember 1990
Cuaca tidak lebih baik dari kemarin. Tidak ada tanda-tanda matahari bersinar. Pemandangan mengejutkan ada di sekitar pondok. Banyak sekali monyet berkeliaran tanpa takut . Sebagian di tanah, sebagian di atas pohon. Kecil, besar, besar sekali, komplit. Tampaknya mereka cukup bersahabat. Sama sekali tidak mengganggu.Kita packing dan sarapan pagi. Jam 09.00 perjalanan hari ini dimulai. Hujan mulai turun walau tidak terlalu deras. Tidak lama melintasi hutan, kami menemui medan pendakian yang terbuka. Di kanan kiri di tumbuhi pohon edelweis yang banyak hangus terbakar ( mungkin kena petir ). Jalur pendakian terus menanjak.Kami jalan beriringan, satu persatu. Sementara itu, kabut tebal menutupi pemandangan. Yang terlihat cuma jalur pendakian beberapa meter di depan. Akhirnya kami tiba di puncak punggungan. Jalur pendakian terputus oleh jurang yang sangat dalam. Nampak pemandangan yang sangat mencengangkan. Danau segara anak yang begitu luas terhampar di bawah jurang. Permukaan air danau yang kebiruan berlindung di balik kabut. Kadang muncul, kadang menghilang dari penglihatan. Danau segara anak adalah bekas besar kawah gunung Rinjani. Setelah meletus kawah menjadi danau, dan pinggiran kawah menjadi puncak-puincak gunung tersendiri. Salah satu puncak tersebut menjadi gunung Rinjani. Ditengah danau segara anak muncul pula gunung berpasir yang bernama gunung Baharu. Kami berada di salah satu pinggiran atas kawah lama. Inilah tempat yang dinamakan Plawangan bayan. Kami sempatkan foto-foto. Sayang cuaca tidak terlalu bersahabat. Kabut tidak habis-habisnya, berlarian kesana ke mari. Nun jauh di bawah sana tampak pondok pendaki di tepian danau. Rasanya sudah tidak sabar, ingin menyentuh air danau. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan. Mengikuti tim patupala yang memipiri jurang ke arah kiri. Memang tidak ada satupun ditemui petunjuk jalur pendakian. Tanpa pikir panjang kami mengikuti tim patupala yang berjalan mengikuti guide.Perjalanan menyusuri tepian atas danau ternyata cukup berbahaya, kadang dinemui jalan setapak yang sempit. Padahal kiri kanan jurang menganga. Di tambah lagi terganggunya pemandangan oleh kabut yang kadang sangat tebal. Puncaknya adalah ketika kita menemui jalur sangat tipis dengan kiri kanan jurang. Disebelah kanan jurang ratusan meter menuju ke danau. Di sebelah kiri jurang puluhan meter yang memisahkan dua punggungan. " wah, jalur nggak bisa di lalui, terlalu besar resikonya " kata guide patupala. Sejak dari Plawangan bayan kami memang berjalan bersama-sama. Panjang jalur tipis tersebut sebenarnya hanya 3-4 meter, tetapi lebarnya ya ampun……cuma selebar telapak kaki lebih sedikit. Tampak tim patupala berunding, mencari keputusan bersama. Sementara hari yang mulai beranjak sore membawa angin keras dan dingin. Setelah rapat kilat, dimutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pantang mundur. Kami melanjutkan perjalanan dengan menuruni jurang sebelah kiri yang tidak terlalu dalam. Walaupun curamnya jurang membuat dengkul panas, tetapi aman. Setelah sampai dasar jurang kami mendaki ke sebrang. Sangat terjal. Ternyata Iye yang berjalan paling akhir tidak mengikuti jejak tim, ia memutuskan untuk melewati jalur tipis di tepian atas jurang. Lebih baik ngeri daripada capek, pikirnya. Iye saling membantu dengan tim Patupala yang juga melewati jalut tipis tersebut. Semua selamat sampai ke sebrang. Kemudian kami terus memipiri tepian atas danau dampai dengan salah puncak tertingginya, Gunung sangkareang. Aku teringat pesawat terbang yang pernah menabrak gunung ini, seluruh penumpang tewas. Ngeri ih . Perjalanan memipiri tepian danau atas terputus oleh jurang yang tidak tampak dasarnya. Kami kemudian berbelok menuruni jurang. Walau sangat terjal,tapi memungkinkan untuk di turuni. Semua mengikuti petunjuk guide. Setelah limabelas menit turun kita tidak dapat lagi menemui jalur yang dapat dilalui. Mentok. Tidak ada jalur turun menuju tepian danau. Yang ada di depan kita jurang tegak lurus. Gunung Rinjani berdiri menjulang di sebrang jurang. Guide patupala mengaku sebetulnya ia belum pernah mendaki melewati jalur Plawangan bayan. Sadarlah, semua telah nyasar. Setelah mencoba kembali jalur jalur yang ada dan ternyata gagal, kami rapat untuk keduakalinya hari ini. Kali ini rapat sangat serius. Diputuskan untuk menginap di lokasi kita nyasar. Tim patupala dengan guide sudah membuka tenda terlebih dahulu. Kami berada di tepian jurang terbuka yang sangat sempit. Tidak ada tempat datar yang cukup untuk berdirinya tenda. Keputusan ini harus diambil mengingat hari mulai gelap dan berkabut, serta jalur kembali ke plawangan yang beresiko tinggi. Tenda berdiri dengan kondisi sangat darurat.Tidak dapat berdiri tegak. Permukaaan berbatu-batu dan miring. Angin kencang yang menimpa tenda menimbulkan bunyi keras. Seakan ada kekuatan besar yang memukul tenda dari luar. Kondisi di luar tenda sangat mencekam. Sebaliknya di dalam tenda kita masih bercanda-canda, membicarakan sisi lucu dari peristiwa-peristiwa hari ini. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk memasak memaksa untuk makan roti perancis. Selama perjalanan dari Jakarta roti perancis cuma dijadikan main pedang-pedangan. Tenda yang tidak terpasang sempurna penuh sesak oleh 9 orang. Tidur malam ini tidak lelap. Antara sadar dan tidak terdengar suara angin terus terusan memecah keheningan malam.

SEGARA ANAKAN, DANAU INDAH NAN MEMPESONA
Sabtu,29 Desember 1990
Pagi hari kami disuguhi pemandangan alam yang mempesona. Terbitnya matahari pagi membawa sinar yang berwarna-warni, saling berebutan muncul dari kegelapan punggung gunung Rinjani jauh di sebrang sana. Indah sekali. Alhamdulillah, pagi hari cuaca sangat cerah. Matahari muncul setelah dua hari berlindung di balik kabut dan hujan. Setelah packing, kami kembali berjalan menuju Puncak gunung Sangkareng. Tempat kami kemarin mulai menuruni jurang. Jalur ternyata sangat terjal, membuat jantung kadang berhenti berdetak.Kami harus melalui jalur hampir tegak lurus. Pendakian harus dilakukan dengan kekuatan tangan yang berpegangan pada batu-batuan. Ransel yang berat menambah kesulitan mendaki tebing terjal. Kalau menengok ke belakang, perasaan ngeri langsung berlipat-lipat. Dibelakang, tepatnya dibawah kita tampak jurang dalam menuju ke danau. Jam 08.00 tim kami tiba di puncak Gunung sangkareang. Istirahat sambil menunggu Tim Patupala yang bergerak agak lambat. Tunggu punya tunggu akhirnya tim Patupala muncul dengan satu orang berdarah mulutnya. Ternyata salah seorang dari mereka jatuh. Menurut cerita, mereka masih mencoba mencari jalur yang kemarin putus. Salah seorang melihat kijang dengan tanduk yang indah. Nah. Ketika mengejar kijang tersebut ia jatuh. Cerita yang agak menghayal. Mana ada kijang di daerah yang hampir tidak ada tanah datarnya. Setan kali. Karena tidak membawa obat, mereka meminta tolong . Ternyata mereka bernafsu mencapai danau karena sudah tidak lagi persediaan air. Kalau dihitung tadi malam adalah malam ke tiga mereka menginap. Selanjutnya Tim patupala melanjutkan perjalanan. Bukan ke Gunung rinjani, tapi kembali turun ke bayan.Mereka sudah tidak memiliki bekal. Kami mengucapkan selamat jalan dengan tidak lupa membekali satu botol kecil aqua. Mudah-mudahan selamat. Kami tahu rasanya gagal sampai ke puncak, apalagi setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Akhir yang menyedihkan. Setelah Tim patupala bergerak, kami lanjutkan perjalanan di belakang mereka. Mereka berjalan cepat, sedangkan kami berjalan sangat hati-hati. Mencermati kondisi jalur yang di lalui. Sesekali dicoba jalur turun, tapi selalu gagal. Semua tebing curam. Selanjutnya kami menemui jalur tipis yang kemarin membuat khawatir. Kali ini kita berusaha meliwatinya. Satu persatu anggota tim bergerak merangkak. Pertama yang dipindahkan adalah ransel-ransel. Secara estafet ransel berpindah dari tangan ke tangan. Selanjutnya satu persatu merangkak. Selamet. Plawangan bayan dapat dicapai jam. 13.00. Jalur turun menuju danau tetap belum ketemu. Sementara Tim patupala sudah tidak kelihatan.Walau belum frustasi, kami sudah jengkel dan memikirkan alternatif-alternatif. Ada yang ingin turun dan mendaki lewat sembalun, ada yang ingin langsung pulang, ada yang bingung.Aku punya rencana liburan ke Bali bersama Difai. Keadaan yang menguntungkan adalah logistik dan persedian air yang masih berlimpah. Pencarian jalur dilakukan bergantian. Terakhir pencarian dilakukan ke arah kanan dari Plawangan bayan. Ini percobaan terakhir. Rasanya tidak mungkin jalur ke kanan, pondok pendaki tampak jelas di sebelah kiri. Beginilah bila tidak membawa peta. Sementara tidak ada laporan perjalanan Stapala ke Gunung Rinjani. Informasi yang dikumpulkan hanya cerita dari senior-senior. Akhirnya berita gembira datang seiring dengan datang Iye dan jenderal. Meraka menemukan jalur turun menuju danau. Ternyata memang seharusnya dari Plawangan bayan harus berbelok kanan mempiri jurang tepian atas danau. Dengan wajah gembira kami menyambut cerita Iye dan Jenderal. Berjuta rasanya mendengar berita mereka. Asikk…akhirnya ketemu jalur. Langsung saja iye dan jenderal mendapat bonus dari kami yang ngumpul di Plawangan bayan. Makanan dan minuman favorit. Aku memberikan minuman favorit yang belum tersentuh…Gula asam. Perjalanan selanjutnya di mulai dengan do'a bersama. Pada jalur kali ini ditemukan sampah pendaki, juga coretan di batu-batu. Perbuatan tidak bertanggung jawab yang menjadi petunjuk pendakian. Berbeda sekali dengan jalur menuju G.Sangkareang yang masih bersih. Jalur semakin jelas setelah berbelok kiri turun. Jalur terus menurun secara drastis . Di kiri kanan tampak bekas-bekas sesajen penduduk setempat.Jalur lebar menurun terdiri dari bebatuan yang basah dan licin. Langkah harus hati-hati agar tidak terpeleset. Perjalanan turun ke tepian danau memakan waktu 2,5 jam. Bayangkan saja berapa tingginya tebing / jurang. Dengan rasa syukur yang sangat mendalam kami akhirnya dapat mencapai danau segara anakan. Air danau tampak begitu tenang. Mungkin angin tidak sanggup mengusiknya. Langsung kami menikmati air danau yang ternyata berbau belerang. Kita cuci muka , tangan. Sementara Iye sujud ke tanah, sesuai dengan nazarnya bila dapat mencapai danau.Luas sekali danau segara anakan. Sekelilingnya di pagari tebing tinggi. Sementara pepohonan pinus di pinggir danau menambah sempurna keindahan danau. Sambil terbengong-bengong dengan pemandangan tepi dananu, kami terus berjalan dipinggir danau menuju Pondok Pendaki. Ketiga Pondok pendaki berada di tepian danau. Kondisi sangat bagus untuk bermalam. Di salah satu pondok ada tim pendaki dari Universitas Borobudur jakarta yang baru turun dari Puncak Gunung Rinjani. Mereka tidak berhasil mencapai puncak.. Medan danau yang tertutup melindungi dari hawa dingin. Suara srigala terdengar bersahutan. Gagal kami rekam. Mereka turun mencari air minum ke tepi danau. Kondisi yang sudah sangat lelah membuat kami langsung terlelap setelah makan malam.

CAMP TERAKHIR DI PLAWANGAN SEMBALUN
Minggu, 30 desember 1990
Pagi ini betul-betul cerah. Matahari mengeluarkan seluruh kemampuan menyinari bumi. Secara agresif, kami menjemur semua perlengkapan pendakian yang sudah 3 hari terkena hujan. Sleeping bag, baju,ransel,sepatu, dll. Kegembiraan kami seakan meluap melihat keindahan danau. Semua melakukan aktivitas -aktivitas pribadi yang menyenangkan. Ada yang mancing, jalan memipiri danau, tidur-tiduran di tepi danau dll. Permukaan danau berwarna keperakan terkena sinar matahari. Indah sekali. Gunung baharu di tengah danau berdiri dengan gagahnya, seakan menantang para pendaki untuk mencapainya. Di salah satu tepian danau ditemui tugu. Sepertinya tempat para penduduk melakukan upacara adat. Sarapan pagi kita sangat istimewa. Ikan bakar hasil tangkapan tangan sendiri. Ikan-ikan memang mudah sekali dipancing atau bahkan ditangkap dengan tangan. Sepertinya mereka kena racun belerang. Sebagian malah tergelepar di tepian danau. Tentu saja kami semua sangat menikmati nasi panas dengan ikan bakar, di tempat terpencil seperti ini. Dalam sekejap Ikan tinggal duri-duri berserakan. Nikmat sekali. Sementara itu tim pendaki dari Unbor pamit turun ke Bayan. Kami saling bertukar informasi, mengingat kami sama-sama nyasar pada jalur berbeda kemarin. Selanjutnya kami menuju sumber air panas, tidak jauh dari pondok. Ternyata letak air panas tepat dibawah jurang Gunung sangkareang, tempat kita nyasar kemarin malam. Airnya benar-benar panas. Kami mandi beramai-ramai., tentu saja dengan acara saling mencela. Selesai mandi langsung membereskan perlengkapan yang di jemur, dan mempacking barang. Tampak beberapa tim pendaki baru saja tiba di pondok. Jam 11.30 kami memulai pendakian kembali, meninggalkan danau sagara anakan. Jalur pendakian awalnya cukup membingungkan, tapi kemudian menjadi semakin jelas. Pertama-tama kami harus melalui jalur landai berbukit-bukit. Melewati kurang lebih 16-17 jembatan kecil. Di salah satu jembatan kami menemukan sumber air. Tentu saja kami menukar persedian air danau yang payau ( walau sudah dimasak) dengan air jernih ini. Selanjutnya jalur pendakian terjal menanjak dengan undak-undakan dari batu. Dikiri kanan tumbuh pepohonan edelweis. Pipa -pipa pegangan dari besi juga menghiasi jalur pendakian. Mungkin untuk mengamankan para pendaki dari jurang. Setelah berjalan 3-4 jam kami tiba di Plawangan Sembalun. Di tempat ini kami bertemu dengan jalur menuju puncak Rinjani dan jalur pendakian dari Plawangan sembalun. Lokasinya mirip dengan plawangan bayan di jalur bayan. Dari tempat ini kami dapat menikmati pemandangan danau dari sisi yang berbeda. Cuaca mulai berkabut ketika kami membuka tenda tidak jauh plawangan. Hujan gerimis mulai berhenti.Malam ini kami tidur di Plawangan sembalun. Disana kami bertemu pendaki dari Ujung Pandang dan Mataram. Mereka langsung mengajak mencari air. Memang ada sumber air bersih yang letaknya agak jauh dari Plawangan. Iye dan Jenderal mengorbankan diri untuk ikut mencari air. Lokasi tenda di dataran berumput yang ditumbuhi pohon-pohon pinus. Dua tenda kami buka sekaligus. Ada monyet besar tampak diantara pohon pinus. Sepertinya menunggu pembagian jatah makanan. Tidak ada rasa takut di matanya. Pada pergantian hari, pergeseran dari terang menjadi gelap tercipta pemandangan yang sangat mempesona. Matahari tenggelam perlahan-lahan, menyisakan warna-warni cahaya dari sela-sela awan. Sementara kerlap-kerlip lampu nun jauh jauh di sana mulai bermunculan. Difai, sang fotografer, seakan ingin menelan mentah-mentah semua pemandangan indah tersebut. Malam ini kami tidur lebih cepat. Tengah malam pendakian ke puncak akan dilakukan. Sleeping bag yang kering mempercepat mata memejam.

AKHIR TAHUN DI PUNCAK GUNUNG RINJANI
Senin, 31 Desember 1990
Sekitar pukul 00.00 WIT kami bangun tidur. Malas rasanya membuka sleeping bag. Pikiran - pikiran rasional membuat kami langsung melakukan persiapan-persiapan. Tengah malam begini kami memaksakan diri untuk memasak dan makan malam. Selanjutnya kami menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke puncak, day pack dan makanan - minuman kaleng. Selebihnya kami tinggal di plawangan. Jalur yang berat memaksa kami untuk tidak membawa seluruh perlengkapan pendakian. Sementara itu kami memakai pakaian berlapis-lapis untuk menahan dingin. T-shirt dilapis baju flanel dilapis rain coat. Muka ditutupi kupluk dan slayer. Kaus kaki dobel serta kaus tangan. Betul-betul tantangan buat sang angin. Semua ransel di tumpuk di satu tenda doom. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Langit menampakan sedikit bintang. Kabut tidak nampak. Puncak gunung rinjani berdiri dengan gagahnya, hitam mencekam. Jam 02.00 kami memulai pendakian. Bismillah……. Tim pendaki dari mataram/ujung pandang mulai melakukan aktivitas persiapan. Baru sepuluh menit berjalan, kami menemukan jalur yang membingungkan. Kali ini kami sangat hati-hati mengambil keputusan. Tim dari Unbor tidak berhasil mencapai puncak karena kesalahan memilih jalur. Untungnya Tim dari Mataram datang menyusul kami. Mereka mengantar tim dari Ujung pandang.Diantara pohon-pohon cemara mereka berbelok kekiri, dekat lubang bekas longsoran tanah berpasir. Jalur berbelok ini memang tidak begitu jelas. Selain itu memang ada jalur lain dengan arah yang berlainan. Mungkin jalur yang menyesatkan tim Unbor kemarin. Kemudian kami bertemu jalur tanjakan terjal pertama. Jalur tersebut membawa kami ke punggungan akhir pendakian gunung rinjani. Barulah kami menemukan jalur pendakian yang sesungguhnya. Jalur pendakian terbuka dengan jalan berpasir. Medannya terus menanjak tanpa jeda. Jalur sempat membuat frustasi dan putus asa. Langkah pendakian sering sia-sia karena menginjak pasir yang tak berdasar. Merosot. Selangkah demi selangkah kami berjalan menembus malam gelap yang dingin. Kadang kadang kami harus merangkak. Apapun kami lakukan demi perjuangan menuju puncak gunung. Disinilah mental dan fisik kami diuji. Medan berpasirnya memang tidak seberat semeru, tapi jalurnya jelas lebih jauh dan menyeramkan. Di sebelah kanan terdapat jurang tegak lurus yang dibawahnya terpampang danau segara anakan. Disebelah kiri jurang tidak tegak lurus, tapi sangat dalam. Kalau jatuh ke kiri, pasti akan berguling-guling sampai dasar. Sedangkan bila jatuh ke kanan, dipastikan akan mati sebelum sampai dasar. Kondisi yang membuat kami hati-hati dan berjalan selalu beriringan. Untung malam berusaha menutupi semuanya. Hanya senter yang dapat bercerita. Kami terus melangkah. Celakanya senterku mati. Setiap langkah mengikuti langkah Dedi yang berjalan paling depan. Perjuangan akhirnya membawa kami ke Puncak gunung rinjani. Puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia ( 3.767 m dpl ) Kami tiba di puncak pukul 05.30 WIT. Bahagia rasanya dapat mencapai target. Tidak sia - sia kami berjalan 4 hari menempuh medan berat. Setelah semua tiba di puncak kami langsung menyanyikan lagu kebangsaan, diiringai orkestra angin pagi. Dijenjang desember kudatang padamu…… Kubimbing kau ke lerang Rinjani………. Pam…….pam…….pam……… Sebuah lagu kebangsaan pendaki gunung semeru yang mungkin belum pernah ke rinjani. Gunung semeru tidak lebih indah dari gunung rinjani. Menurutku rinjani lebih mencengangkan. Pemandangan terindah selama aku mendaki gunung. Sayangnya cuaca tidak terlalu cerah. Sunrise kurang sempurna warnanya. Sementara puncak gunung rinjani ternyata terlalu sempit untuk menampung kami semua. Kami tidak bisa berjingkrak-jingkrak sembarangan. Tawa dan canda ceria mengiringi keberadaan kami di puncak. Selain foto-foto kami merekam seluruh komentar tentang perasaan masing -masing anggota tim. Untuk berfoto kami rela membuka jaket penahan dingin. Nggak apa-apa sebentar kedinginan. Udara memang masih cukup dingin dengan angin cukup kencang. Disebelah timur tampak garis pantai serta pulau - pulau kecil berserakan. Ditembuh oleh cahaya mentari pagi keperakan. Disebelah barat dikuasai oleh pemdangan danau segara anakan dengan gunung baharu dan gunung sangkareangnya. Disebelah selatan tampak kawah kecil yang sudah mati. Disebelah utara terhampar dataran pulau lombok. Sempurna. Dekat kawah tampak puncak lain. Mungkin puncak palsu. Jaraknya tidak jauh kearah kawah. Untuk kesana meliwati jalur yang tidak memungkinkan. Kami tidak ke sana. Tim pendaki dari Ujung pandang tiba di puncak kemudian. Satu orang turun kembali sebelum puncak karena kelelahan. Celakanya yang turun kembali membawa kamera. Mereka dengan memelas mohon difoto. Tentu saja kami mengabulkan permintaan mereka. Apa rasanya naik gunung tanpa kamera. Sekitar pukul 07.30 kami turun kembali. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada naik. Kami dapat merosot menggunakan pantat.Asik…..main perosotan. Walaupun berdebu kami menikmati cara kami turun gunung. Bayangkan kami turun tanpa harus mengeluarkan tenaga, sambil menikmati pemandangan pegunungan yang aduhai. Sesekali kami memetik edelweis yang tumbuh jarang-jarang. Dua jam kemudian kami tiba di Base camp plawangan sembalun. Langsung packing dan makan. Selanjutnya kami turun ke sembalun.Pamit-pamitan dengan tim ujung pandang yang akan ke danau segara anak. Monyet preman yang kemarin tampak tetap mengamati semuanya.
FRUSTASI DI BUKIT PENYESALAN
Awal perjalanan turun adalah medan terbuka. Kemudian masuk ke hutan pinus dengan banyak jalur. Semua jalur kecil-kecil dan saling bertemu kembali. Seskali kami bertemu pendaki yang akan naik. Ternyata memang jalur sembalun lebih disukai dibanding bayan. Satu jam perjalanan kami bertemu pondok pendaki yang sudah jadi puing-puing. Satu jam kemudian sungai dan jembatan pertama. Kami menambah persedian air dan terus melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kami memasuki " bukit penyesalan " Nama besar bukit penyesalan ternyata bukan omong kosong. Jalur perjalanan terasa sangat berat. Perbukitan tidak habis-habisnya menghadang kami. Meliuk-liuk tidak efektif. Sementara pemandangan begitu membosankan dengan rerumputan ( sabana ) dan sesekali kerbau liar. Garis pantai selalu tampak diujung jalan ( pertanda kami masih di daerah tinggi ). Frustasi juga. Kami mulai jalan sendiri-sendiri menurut selera masing-masing. Aku jalan sendirian. Ogun dan Yudi sudah jauh di depan. Andri jauh di belakang. Sementara yang lain lebih jauh lagi. Jalur besar sangat jelas, bahkan tampak bekas roda-roda mobil. Kami juga menghitung jumlah jembatan yang berjumlah 40-45 buah. Satu jembatan dengan jembatan yang lain dipisahkan oleh minimal satu bukit. Bukit penyesalan. Jam 17.00 kami tiba di perkampungan Sembalun. Petugas yang menjaga pondok pendaki menceritakan sepinya pendaki pada bulan desember. Desa Sembalum juga tidak terlalu ramai. Tidak ada warung nasi. Kami harus ke pasar naik ojek. Malam hari kami habiskan dengan bincang - bincang dengan Petugas Penjaga Pos Pendaki. Selanjutnya kami merayakan malam tahun baru. Pesta paling meriah di seantero Gunung Rinjani. Selamat tinggal 1990, selamat tahun baru 1991

Wednesday, August 31, 2005

Halal Bihalal di Gunung

LEBARAN NYA ANAK STAPALA
Jumat, 26 April 1991.

Lebanon baru berlalu sepuluh hari yang lalu. Anak-anak STAPALA mengadakan kegiatan "Ketupat Lebaran". Tempat dan waktunya ditentukan oleh masing-masing kelompok. Tentunya di daerah masing-masing. Aku kebagian memimpin pendakian 6unung Gede pangrango. Tentunya untuk anggota stapala yang rumahnya di Jakarta. Rencananya rombongan di bagi dua. Tim leader akan mendaki dua gunung sekaligus, gede dan pangrango. Sedangkan tim kedua hanya mendaki gunung gede, dan berangkat lebih akhir.Hari ini, Aku, iye,ogun,padel,difai,agup,prast,dedi medan, anggota tim leader berangkat dari Posko Stapala. Nggak lupa Kita berlebaran dan bersalam-salaman satu sama lain. Setelah sholat maghrib.Dilepas oleh dedi Abdul, yang single fighter menunggu posko. Setelah lepas dari calo-calo terminal cililitan yang keparat kami tiba di Cibodas. Waktu sudah hampir tengah malam.Tidak ada lagi kendaraan umum yang bisa membawa kita ke PHPA Cibodas. Ojek mahal sekali. Untungnya ada colt bak terbuka yang bisa ditumpangi ramai-ramai. Lumayan, walau hanya setengah jalan jalan dan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Cibodas sepi. Semua warung tutup. Kami tidur di salah satu warung. Kepingin main kartu, nggak ada lampu. Dingin.

PAGI YANG INDAH SEKALI
Sabtu, 27 April 1991

Setelah sholat subuh, kami makan di warung. Menunggu petugas PHPA. sebulan yang lalu aku, difai, dan iye ke sini untuk meminta ijin pendakian. Karena sudah tutup, surat ijin dititipkan pada salah seorang petugas. Dan pagi ini kami menunggu pak gatot, petugas tersebut. Betul saja, pak gatot muncul dan menyerahkan surat ijin pendakian yang sudah diurus. Jam. 07.30 Kami mulai pendakian. Indah sekali pagi ini. Cuaca begitu cerah. Pepohonan di hutan masih basah dengan embun pagi. Burung-burung berkicau, saking bersahutan. Aku belum pernah mendaki gunung gede di pagi hari. Ternyata begitu enjoy. Ditambah lagi tim yang berangkat kali ini adalah tim tukang cela. Perjalanan begitu ramai dengan cela-celaan,saling mengejek, saling menjatuhkan, cermin keakraban anak-anak stapala. Tidak ada target waktu dalam perjalanan kami. Di setiap tempat indah kami beristirahat. Difai jadi tukang foto kami yang setia.

GUNUNG PANSRANGO
Empat jam kemudian ( pk.11.30 ) kami tiba di Kandang badak, Pos terakhir sebelum puncak pangrango. Kami isitirahat agak lama plus makan siang. Tidak ada pendaki selain kami. Sepi dan mengasikan. Perjalanan di lanjutkan sampai ke Puncak gunung pangrango. Jam tiga sore semua anggota tim sudah berada di puncak mandalawangi, gunung pangrango. Di tempat yang dikelilingi pepohonan ini kami berfoto-foto. Dengan segala gaya. Cuaca cukup cerah. Dalam perjalanan ke pangrango, kami dapat melihat dengan cukup jelas lereng-lereng kawah gunung gede. Pondok yang sudah rusak mengurangi keindahan puncak pangrango. Kami tidak turun ke alun-alun Mandalawangi. Tidak ada yang niat dan tahu jalan. Aku pun cuma menduga-duga. Dimana ya , alun-alun tersebut ? Jam empat sore kami turun, tanpa sempat ke alun-alun. Di kandang badak kami langsung menempati kamar di pondok pendaki. Tempat paling nyaman di kandang Badak. Malam ini kami menginap disini. Makin malam Kandang Badak makin ramai. banyak sekali pendaki pada malam minggu sep*erti sekarang. Mereka hanya istirahat dan melanjutkan ke puncak gunung gede. Tentu saja kami tidak terganggu di dalam kamar. Malam hari tetap dimanfaatkan untuk saling menyela dan mencari lelucon-lelucon paling gress. Tidur.

HAMPIR TURUN SENDlRIAN DARI GUNUNG GEDE
Minggu, 28april 1991

Hari hampir pagi, tim kedua mulai bermunculan. Mereka berangkat dari cibodas tengah malam. Thofa, gustav, dan ike cuma mampir dan langsung ke Puncak gunung gede. Ceritanya mereka ingin melihat sunrise. “Brik, minal aidin wal faidzin, gue langsung ke puncak ..." teriak thofa dari luar jendela pondok. Saya malas menjawab. Tetap berlindung di dalam sleeping bad. Dingin sekali. Iway, body, dan dian yang datang belakangan ikut masuk ke pondok dan tidur..... Setelah sarapan kami menyusul ke puncak. Cuaca masih begitu cerah.Tampak beberapa orang tun's asing ikut naik ke puncak. Lucunya, cewek bule itu kepalanya kepentok pohon dan nangis. He.he.he......makanya punya badan jangan tinggi-tinggi! Disepanjang jalan menuju puncak kami terus foto-foto. Masih dengan Difai, sang fotografer. Jam 08.30 kami tiba di puncak gunung gede. Penuh dengan pendaki. Kawah terlihat dengan jelas. Langit biru menambah gagah lereng-lereng kawah yang begitu luas. kami betul-betul menikamati hamparan ciptaan Ilahi. Ketika turun gunung terjadi hal yang menjengkelkan. Anak-anak kepingin turun lewat gunung putri. Padahal rencana semula kami turun lewat cibodas. Saya bersikeras tetap dengan rencana semula. Anak-anak didukung seniorsenior tetap turun lewat.Cibodas " walaupun sendiri saya tetap turun lewat Cibodas ", Sayatetap nggak mau terima ide. Saya jengkel, disuruh jadi kordinator tetapi tidak dituruti rencananya. Terutama pada rekan-rekan senior. Kalau memang ingin lewat jalur gunung putri kenapa tidak ngomong dari kemarin. Pada surat ijin yang saya bawa juga tertera jalur cibodas sebagai alternatif turun.Akhirnya mereka tetap turun lewat gunung putri. Dari Puncak gunung gede ke Alun-alun terlebih dahulu. Saya tetap di puncak. Saking jengkelnya, saya tidur di diantara pepohonan di Puncak. Tidak peduli nanti harus turun sendiri ke cibodas. Semakin siang semakin sepi. Para pendaki sudah mulai turun gunung. Jam 12.00 tengah hari saya terbangun dan berniat turun. Puncak gunung gede sepi sekali.Matahari bersinar dengan terik. Terkejut saya, ternyata Ogun tidak ikut turun ke gunung putri. la tidur juga tidak jauh dari tempat saya tidur. Dan ternyata difai juga naik kembali ke Puncak, setelah ikut turun ke alun-alun. Mereka ternyata tidak membiarkan saya turun sendiri. Akhirnya kami turun bertiga. Dalam beberapa jam kami sudah tiba di cibodas. Lapor PHPA tentang tim yang terbagi dua. Serta menemui Pak Gatot. Ngasih ucapan terimakasih dan uang lima ribu. Jam 21.30 aku sudah tidur di rumah.

Jenuh di Posko, ke Gunung Salak

MENINGGALKAN KESIBUKAN POSKO STAPALA
Sabtu, 27 Juli 1991
Posko penuh dengan pengumuman-pengumuman. Saat ini memang sedang digunakan sebagai Posko Pekan Penghijauan Kampus. Semua anggota stapala jadi panitia pelaksana. Hari-hari mendatang pasti posko akan terus bertambah ramai. Walaupun begitu kesibukan posko tidak dapat menutupi suasana suntuk anak-anak stapala, terutama angkatan 89/90. Sepuluh hari yang lalu beberapa anggota stapala yang terbilang paling aktif harus drop out. Tentu saja Suasana berkabung belum hilang dari posko. Aku lihat teman-teman 89/90 tidak se-ngocol biasanya. Aku sendiri suntuk melihat posko.Semalam aku bersama Ogun dan Inge punya ide untuk menghilangkan suntuk dengan mendaki gunung salak. Murah meriah. Ternyata banyak rekan yang kemudia ikut ; Padel, lye, Winda, agup, dan terakhir Kupang. Hari ini kami kumpul di posko. Sebetulnya nggak enak meninggalkan teman-teman yang sedang sibuk melakukan persiapan PPK. Kami berharap setelah pulang dari gunung kondisi jadi lebih fresh.Sekarang betul betul tidak ada gairah untuk bekerja. Padahal kami harus membuat bermacam-macam, salah satunya menyablon 3000 slayer. Bukan pekerjaan main-main. Nama Stapala tanggungannya. Tanpa kesulitan apapun kami malam harinya sudah tiba di warung Loa, Ciapus Bogor. Perkampungan terkahir sebelum pendakian. Warung-warung tampak meriah. Tiap malam minggu memang ramai oleh remaja yang berkemah. Kami tiba warung Loa berbarengan satu truk remaja yang mengadakan perkemahan. Ada perkemahan serta air terjun disini. Jaraknya yang dekat dari jakarta-Bogor membuatnya jadi salah satu alternatif terdekat untuk refreshing. Tiga tahun yang lalu, ketika aku masih SMA, warung belum seramai sekarang. Belum juga terdapat Pos Pendakian. Kami mendaki bebas. Paling-paling ijin ke Mang Sodik atau istrinya, Umi, yang punya warung nasi persis di pertinggan jalan. Sekarang Kami harus menulis buku tamu dan bayar. Dari buku tamu dapat diketahui, tidak banyak pendaki ke gunung salak. Berarti mereka yang di warung cuma berkemah.

PENDAKIAN SEKEDARNYA
Minggu, 28 Juli 1991
Setelah sholat kami mulai mendaki. Sekarang jam 00.30. Udara cukup dingin. Langit tidak menampakan bintang. Rupanya cuaca memang tidak terlalu bersahabat. Malam berselimutkan kabut. Kami berjalan dengan santai. Tidak ada yang harus di kejar. Lagian beban kami tidak berat. Jalur pendakian gunung salak II memang termasuk berat. Jalan terus menanjak dan sangat terjal. Jarang sekali medan datar yang nyaman untuk beristirahat. Terpaksa kami istirahat di sembarang tempat. Cuek lah.....
Pos demi pos terlewati. Pos digunung salak hanya berupa pohon yang dipasang palang bertuliskan pos. Kadang di tempat datar, tapi lebih sering disembarang tempat. Bagi kami, pos cuma berarti kami sudah semakin dekat dengan puncak.Tiga tahun yang lalu aku ke sini bersama teman-teman dari trupala, SMA 6 Jakarta. Pada suasana yang berbeda dan kawan yang yang berbeda, yang sama adalah tanjakannya. Di Pos IV kami diserang ngantuk yang amat sangat. Sekarang jam 03.30. Walaupun lokasinya nggak bogus (tidak datar ) Kami bisa tidur. Beralaskan ponco. untung tidak turun hujan.Lumayan.
KETEMU TETAN6GA RUMAH
Jam 06.00 kami melanjutkan perjalanan. Dengan semangat baru. Aku ketemu Asep, tetangga sebelah rumah. Ternyata ia suka naik gunung, baru tahu aku. Jalur pendakian masih terjal. Tidak ada pemandangan yang dapat di lihat. Hutan tropis sangat lebat. Di Pos VIII kami beristirahat cukup lama. Sebelumnya kami meniti tepi jurang, setelah menyerong dari punggungan. Pos VIII cukup terbuka. Kami dapat melihat pemandangan ke jurang. Tampaknya cukup dalam. Jurang ini memisahkan antara puncak salak I dengan puncak salak II. Ada jalur yang menghubungkannya melalui tempat yang dinamakan sadel. Menuruni jurang menembus hutan di dasar jurang. Ada temanku SMA yang pernah melintasi jalur'tersebut. Hampir tidak pernah di lalui manusia. Di Pos VIII kami foto-foto. Baru disini ada pemandangan yang layak di foto. Banyak pula anggrek hutan yang tumbuh diatas pepohonan.

TIDAK ADA KEINDAHAN DI PUNCAK
Puncak Sunung salak II dapat kami capai tidak jauh dari Pos VIII. Jalurnya terus meniti jurang. Kadang tanah yang kita pijak tipis dan gembur. Rawan longsor. Kami semua tiba di puncak dengan selamet. Puncak Salak II tidak punya pemandangan yang cukup luas seperti gunung gede. Dataran agak luas ini dikelilingi pepohonan yang menutup pemandangan. Apalagi langit banyak ditutupi awan. Matahari hanya dapat dirasakan panasnya. Tugu triangulasi berdiri ditengah-tengah. Sampah berserakan dimana-mana. Sungguh pemandangan yang menyesakan dada.Menjijikan.
Cuma aku dan Kupang yang mau di foto. Lainnya langsung menggelar ponco dan meneruskan tidur. Bangun tidur kami packing dan langsung turun. Berlari Tanpa henti. Sebelum gelap kami sudah mandi di sungai dekat air terjun Belong, warung Loa. Asik juga, bisa kelihatan bersih-bersih. Setelah makan kami meninggalkan Warung Loa. Di Bogor kami berpisah. Aku dan Inge ke Ciputat. Sisanya ke kampung Rambutan. Hilang sudah rasa jenuh di stapala.

Malam Minggu di Gunung Putri

Sabtu, 12 Mei 1990 '
Hujan deras mengguyur Jakarta. Niatku ke Blok M jadi goyah. Kemarin aku sudah janji akan mendaki gunung Ge.de. bersama teman-teman trupala malam ini. Tadi siang, sepulang kuliah, aku sudah membeli seluruh keperluan pendakian. Ketika hari mulai gelap hujan belum tampak akan berhenti. Aku nekat berangkat ke SMA 6. Ternyata tammy sudah menunggu di tangga kelas, tampat anak-anak trupala biasa mangkal. la sudah putus asa menunggu. Bahkan logistiknya sudah dikasih orang lain.”nggak usah berangkat deh, hujan. Lagian Rudi nggak jadi ikut " sambutnya ketika melihat aku membawa peralatan pendakian.Segan juga kalau cuma berdua, pikirku. Suasana malam di SMA 6 yang biasanya ramai dengan anak-anak trupala tampak sepi. Cuma ada kardi, penunggu sekolah.

Niat kami berubah ketika Dani Bogel datang. Lengkap pula dengan peralatan pendakian. Hujan pun sudah agak berhenti. Jam menunjukan pukul. 20.30 WIB. Kami jadi berangkat. Terminal Bogor lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena udara begitu dingin. Orang malas keluar rumah. Tammy ketemu rombongan teman-temannya yang ingin berkemah di cibodas. Kami naik colt ke cipanas, gratis, Ditanggung teman-temannya Tammy.

Perjalanan melewati puncak pass selalu mengasikan. Dengan malas kami turun di pertigaan Cipanas, tepat tengah malam. Sepi, kecuali beberapa pedagang makanan. Kami menuju pedagang sate, Duduk lesehan. Walau kurang enak, perut kami yang kelaparan bisa terisi. Kurang ajar, tukang - tukang ojek menawarkan ongkos Rp.2.500,- per orang untuk naik ke atas. Ongkos yang tidak masuk akal. Ongkos dari Bogor ke cibodas aja cuma Rp.1,500,-. Mereka betul-betul memanfaatkan kondisi tengah malam. Dengan mendongkol kami pilih jalan kaki. Biar tukang ojek mati kedinginan menunggu penumpang. Lagian kami perlu pengalaman baru. Perjalanan ke atas ternyata mengasikan. Melewati desa-desa yang sudah terlelap. Menembus kegelapan pepohonan yang rimbun.Langit mesih menyisakan cuaca mendung. Tidak tampak sama sekali bintang-bintang.kami berjalan sambil ngobrol kesana-kemari. Tawa kadang meledak ketika kami membicarakan pengalaman yang lucu-lucu. Kami memang tidak satu generasi di trupala. Dani Bogel seniorku, sementara tammy yuniorku. Trupala mendidik kami menjadi satu kesatuan yang selalu kompak. Dani sekarang kuliah di Fak.Ekonomi Trisakti sedangkan Tammy masih kelas III SMA. Terlupakan sudah niat untuk mendaki gunung gede.

Walaupun sempat kesasar dan melewati jalur yang seram kami tetap berjalan. Ternyata jauh juga. Kami sempat terhadang penduduk yang sedang jaga malam." Hati-hati, masih banyak harimau" kata mereka sambil menenteng golok. Tentu saja kami tidak percaya dijaman sekarang masih ada harimau di cipanas. Ternyata kami tidak sendirian, ada satu rombongan dari tangerang yang juga berjalan kaki. Bedanya, mereka jalan sambil minum-minum sempoyongan. Dasar. Jam 04.00 kami tiba di rumah Mang Idris. Tempat kumpulnya anak-anak trupala yang ingin mendaki gunung gede. Aku sudah pernah ke sini waktu pendakian pro bakti 3 bulanyang lalu. Capek juga jalan kaki dari bawah. bani bogel mengenal baik mang Idris. Kami langsung menggelar matras dan tidur.
Minggu, 13 mei 1990 '
Tidurku cuma dua jam. Aku tertarik dengan terbitnya matahari. Indah sekali pemandangan dari depan rumah mang idris. Terbuka dikelilingi sawah. Ada batu besar dimana kami dapat duduk dan melepas pandangan mata ke alam yang terhampar. Pagi-pagi kami nongkrong di warung, ngopi. Cuaca masih dingin berkabut. Ada beberapa anak STAPALA STAN yang sedang mengadakan pendakian ke gunung gede. Aku tidak bertanya lebih lanjut, lebih asik membicarakan pengalaman-pengalaman selama didas ( pendidikan dasar ) trupala.Mang Acep mengantar kami ke air terjun. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mang Idris, melewati pematang-pematang sawah. Ternyata air terjunnya tidak cukup besar. Jauh, dibanding air terjun di gunung bunder. Bogel, punya inisiatif memasak logistik yang kami bawa. Enak juga. Lama juga kami menikamti pemandangan di sekitar air terjun. Siangnya kami makan lagi dirumah mang Idris dengan menu spesial, ikan asin. Jam 16.30 kami pamit pulang. Jam 21.00 kami sudah ada di terminal cililitan
.

HUT stapala ke 11 di Anyer

Sabtu 24 November 1990

Hari lang tahun stapala ke 11. Tidak ada perayaan apa-apa. Kami akan memperingatinya dengan berjalan menyusuri pantai. Judulnya Long March Anyer Beach. Payahnya, kami harus bayar lima ribu untuk transportasi. Kami menumpang truk ABRI dari kampus. Penuh sekali, hampir 50 orang ikut serta. Sebagian besar anggota stapala, sebagian lagi partisan. Jam 16.00 kami meninggalkan kampus menembus malam minggu Jakarta yang macet.
Tepat di sebrang mercu suar pantai anyer kami turun dari truk. Mula- mula diadakan acara renungan yang aku tidak jelas isinya. Aku lebih asik ngobrol. Kemudian rombongan dipecah dua. Satu rombongan adalah tim inti yang akan berjalan di depan. Sisanya tim penggembira. Tim inti punya target harus tiba di pantai carita pada jam tertentu. Aku masuk tim inti bersama-sama angkatan diklat 90. Tim inti berangkat duluan.

Pemisahan rombongan ternyata kemudian acak-acakan. Sebagian tim inti berjalan perlahan, sementara sebagian tim penggembira berjalan terlalu cepat. Semrawut. Jelasnya kami berjalan berdasarkan teman terdekat. Aku berjalan bersama-sama teman diklat yang kebetulan sudah saling akrab sejak diklat. Awal perjalanan menyusuri jalan aspal. Gelap, tanpa penerangan jalan atau senter. Mengasikan. Banyak ide-ide guyonan yang muncul diantara kami. Andri jadi obyek penderita malam ini. Semua tingkahnya tidak lepas dari celaan.

Di karang Bolong kami istirahat, minum air kelapa muda. Perjalanan sudah dua jam. Belum ada tanda - tanda kelelahan di mata anak-anak. Selanjutnya kami menyusuri pantai. Asik sekali berjalan di gelapan di bawah sinar rembulan. Suara deburan ombak menjadi pemanis perjalanan. Kadang kami harus naik atau menuruni batu karang. Kami berhenti berjalan ketika muncul cahaya di ufuk timur. Matahari terbit.

Kami sholat subuh di Muara sungai kecil yang bogus sekali. Airnya mengalir perlahan-lahan menuju lautan. Bingung juga, gimana memisahkan air yang asin dan yang tawar. Kuasa Tuhan yang maha Kuasa. Kami lanjutkan perjalanan. Rombongan sudah demikian acak-acakan. Sebagian sudah ikut dengan truk yang bertugas menyapu. Sebagian lagi tidak berjalan di tepi pantai, memilih jalan aspal yang lebih keras. Aku lihat pembawa bendera sudah naik truk. Kami, aku bersama gunawan,jendral,iye,adi berjanji untuk terus berjalan menyusuri pantai sampai dengan tujuan.

Ternyata perjalanan masih sedemikian jauh. Pemandangan pantai di pagi hari begitu indah. Udara begitu segar. Pantai putih. Ombak laut berdebur mengiringi perjalanan kami. Asik sekali berjalan perlahan, sambil berbincang dengan kawan-kawan. Kami berkali-kali berganti strategi berjalan. Kadang mengenakan sendal, kadang nyeker. Kondisi perjalanan berubah-ubah. Sesekali kali melewati villa - villa dengan para penghuni yang sering tun's asing. Indah sekali pantai putih dengan pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai. Sayangnya beberapa lokasi di tercemar oleh benda berjaket kuning. Bau lagih !. kami juga sempat menyebrang muara sungai besar denga menumpang perahu nelayan. Pokonya jangan sampai menjauhi pantai. Begitu agreementnya. Kadang kami harus menaiki tembok vila agar tidak keluar dari pantai. Menggelikan.
Jam 08.30 Kami tiba di pantai carita. Huh, perjalanan yang melelahkan sekaligus mengasikan. Acara ulang tahun stapala sudah selesai. Kami yang datang terkahir sudah tidak tahu ada atau tidaknya acara ulang tahun. Mungkin kami sudah dianggap tidak meneruskan perjalanan. Padahal sepertinya hanya kami yang murni berjalan kaki. Menurut penduduk jarak carita-mercu suar anyer sekitar 41 km. Lumayan. Aku tidak peduli dengan semuanya. Tidak kuat menahan kantuk. Jam 11.00 kami kembali ke Jakarta. Selamat ualng tahun stapala !

Tuesday, August 30, 2005

Upacara Sumpah Pemuda


Lewat Jalur Selabintana

Sabtu, 27 Oktober; 1990
Dani Jenderal ke rumahku. Pagi tadi kami janjian untuk belanja keperluan pendakian. Kami bersama teman-teman STAPALA akan memperingati hari sumpah pemuda di Gunung Gede. Jam 15.00 Jenderal dan Aku ke rumah Yudi dekat kampus. Sudah ada lye dan Gunawan. Kami memang janjian untuk bersama-sama ke Posko. Maklum, kami semua belum genap satu bulan jadi anggota stapala. Banyak anggota stapala sudah menunggu di posko.Ada sekitar 20 orang yang akan ikut pendakian. Kordinatornya Joko.
Jam. 17.00 kami meninggalkan jurangmangu. Naik bis umum. Terminal cililitan penuh dengan colon penumpang. Rutinitas di malam libur. Kami menumpang bus jurusan Bogor. Di Bogor, Bus jurusan Sukabumi selalu penuh sesak. Penumpang bergelantungan. Tentu menyulitkan kami yang membawa ransel-ransel besar. Aku sama sekali tidak tahu kalau pendakian kali ini lewat jalur Sela Bintana. Biasanya aku naik lewat cibodas atau gunung Putri. Akhirnya kami mencarter bus kecil menuju Selabintana. Asik, bisa duduk santai.
Kemudian kami berjalan menuju Pintu gerbang pendakian di Cipelang, lokasi perkemahan PERMATA angkatan 89. Ternyata jalan dari Selabintana menuju Cipelang melawati kampung-kampung serta sawah-sawah yang gelap. Sekarang memang sudah dini hari. Kami sudah harus menggunakan senter. Tidak ada penduduk yang berada di luar rumah. Di tengah sawah kami sempat kehilangan arah. Aku berjalan tanpa tahu tujuan. Mengikuti teman-teman yang ada di depan. Jam 03.00 tiba juga kami di Pos Pendakian Cipelang.

Tim Baru
Setelah ijin sebentar, kami langsung mendaki. Kami mendaki bersama teman-teman yang relatif baru kenal, kecuali Ejo, lye, Jenderal yang memang teman di anggaran. Lainnya, Gunawan, Yudi, Andri, Wiwit, Joko, Gustavjnge, ari, mimi dll. Dengan teman-teman satu angkatan Diklat tentunya kami sudah saling kenal, tapi dengan senior baru kali ini kami mendaki bersama. Oh ya, tahu nggak, kenapa Dani kami panggil Jendral ?. Karena wajahnya mirip Rudini, Pangab .Kami berjalan dengan penuh semangat. Entah kenapa, aku sama sekali tidak ngantuk. Enjoy. Jalur pendakian Cipelang ternyata lumayan membosankan. Tidak ada shelter-shelter, apalagi pondok pendaki. Kami menembus rimba kegelapan. Awal pendakian banyak ditemui pohon-pohon yang tumbang. Kami harus berjalan diatasnya atau merayap di bawahnya. lye terkena kram kaki ketika melompati salah satu batang pohon. Payah, lye kelebihan beban perut. Sama penyakitnya seperti waktu kami berdua ke papandayan. Untung nggak parah. Gelap perlahan mulai menghilang. Mentari pagi mulai mengusik belantara yang terlelap. Sinarnya menembus pepohonan memancarkan warna keemasan diantara hijaunya dedaunan. Lebat sekali hutan gunung gede. Perjalanan terus mendaki. Dan kami tidak pernah putus asa. Sumber air kecil baru dapat kami temui setelah berjalan beberapa jam. Disini ada tempat agak terbuka mirip shelter, tap! tidak ada pondok. Ada beberapa pendaki yang mungkin sedang istirahat.

Upacara Sumpah Pemuda
Jam 09.00 kpmi keluar dari rimba belantara dan muncul di alun-alun suryakencana. Aku baru tahu kalau jalur selabintana melewati bukit gumuruh dan muncul di alun-alun. Berlawanan arah dengan jalur gunung putri. Dibanding jalur cibodas atau gunung putri, jalur selabintana lebih jarang di daki. Langsung kami foto-foto. Sudan lama aku tidak mendaki gunung gede. Pondok pendaki di alun-alun sudah tidak ada. Katanya terbakar. Sayang. Sementara itu sudah banyak sekali pendaki yang berkumpul di Alun-alun.
Jam 10.00 Upacara Sumpah pemuda dilaksanakan. Panitianya MAP ALA UI. Beberapa peserta upacara mengenakan pakaian tradisionil. Sungguh kreatif. Sedangkan yanglain mengenakan pakaian seragam masing-masing. Kami mengenakan slayer merah kebanggaan STAPALA. Peserta upacara terbanyak dari Jakarta. Upacara berlangsung dengan cukup khidmat. Terutama pada saat ikrar pemuda.Selanjutnya kami mendaki ke Puncak gunung gede. Aku membawa ransel ke puncak. Perkiraanku kami turun lewat cibodas. Setelah sampai puncak baru diketahui kalau nanti kami turun lewat gunung putri. Ya, terlanjur bawa ransel. Cuaca di puncak gunung gede tidak terlalu cerah. Awan menutupi matahari. Kawah hampir tidak terlihat. Kami foto-foto sebentar kemudian turun lagi ke alun-alun suryakencana. Jendral kelihatannya sakit. Katanya sakit di dada. Tapi terus membaik. Jam. 14.00 kami meninggalkan alun-alun suryakencana. Kami turun lewat jalur gunung putri. Kabut tebal sudah menutupi hampir seluruh permukaan alun-alun. Udara dingin pun telah merambat ke permukaan kulit kami. Langkah kaki pun kami percepat. Perjalanan turun cepat sekali. Aku bersama inge, yudi, Joko. Lari. Di gunung Gede ini kami lebih saling mengenal dengan teman-teman STAPALA. Intoducing by trekking. Inge tuh kakak kelasku di SMA 6. Tapi anak pramuka. Sebelum gelap kami sudah asik nongkrong di Pondok pendaki gunung putri. Menunggu mereka yang turun belakangan. Jam 19.30 Oustav berhasil mem sweeping pendaki terakhir yang ternyata sakit, Ani temannya ari Tingkat III STAN. Untung mereka datang. Kalau tidak, aku sudah disuruh menyusul bersama gunawan. Kami langsung ke cipanas. Jam 23.30 tiba di rumah.

Harpitnas ke Gunung Slamet


PERSIAPAN SEADANYA
Minggu,10 Februari 1991
Aku berangkat dari rumah mengantongi ijin pergi ke Bandung mengisi libur minggu,senin,selasa. Hari Kejepit Nasional ( Harpitnas ). Sayang kalau disia-siakan. Tentu saja diisi dengan mendaki gunung. Kemarin ada tawaran untuk mendaki gunung Slamet. Terakhir aku mendaki gunung Rinjani, satu setengah bulan yang lalu. Posko Stapala penuh dengan anggotanya. Sebagian besar dari mereka adalah panitia Porseni. Di gedung & sedang berlangsung final bola basket antara Bea Cukai dan Pajak. Berisiknya minta ampun. Aku nonton. Persiapanku sebetulnya tidak terlalu baik. Cuma membawa day pack ( pinjam dari Agup ). Sepatu pun pinjam dari Gusmar, kobota. Logistik sudah aku beli sebelum ke Posko. Tidak terlalu banyak. Rencananya memang perjalanan cuma 2 hari.Perjalanan ini murni idenya anak-anak tk.III gustav dan Imar. Respon justru banyak dari Tk.II Israwan, Wiwit,Iye,Sari,Ejo. Semua sudah kumpul di Posko Stapala sejak pagi. Siap untuk berangkat. Masalahnya Gustav, senior yang menjadi guide malah hi long tak tahu rimbanya. Di pintu posko tertinggal pesan Gustav " kita bertemu di Stasiun Purwokerto". Kami semua kecewa. Keberangkatan kami di lepas para penghuni posko Difai,Joko,Nug-nug,Thofa dll. Mereka memilih liburan di posko. Jam menunjukan pukul 10.30 WiB. Acara tunggu menunggu membatalkan rencana untuk menumpang kereta api gaya baru. Kereta murah idola mahasiswa. Tidak mungkin kami mengejar keberangkatan kereta pukul 12.00 dari stasiun senen. Padahal kami harus menambah losgistik di Blok M. Acara belanja di Golden trully. Terpaksa aku beli paraf in mahal, Rp.1.100,-. Kami naik bus jurusan Purwokerto di terminal Pulo Gadung. Tiket bis patas Rp. 8.500. Katanya sih kemahalan, tapi kami tidak terlalu peduli.Bisnya lumayan, kami bisa ngobrol-ngobrol dengan santai. Tidak terlalu penuh. Pukul 14.30 Bus meninggalkan Jakarta. Kami tidak turun di terminal bus Purwokerto, tapi di stasiun Kereta api. Gustav berpesan untuk ketemu di stasiun. Sekarang sudah jam setengah duabelas malam. Sepi sekali suasana di sini. Kereta api terakhir sudah lewat jam sembilan malam. Kami sudah ngantuk. Gustav tidak kelihatan. Untuk keduakalinya Gustav mengecewakan kami. Sambil makan malam, kami bertanya banyak tentang perjalanan ke Gunung Slamet. Tak ada informasi yang kami bawa dari Jakarta. Untung, seseorang menceritakan perjalanan ke kaki gunung. Setelah acara sandiwara berseri " dr. sartikanya Dewi Yull " warung tutup. Kami tidur di mushola dekat stasiun.

DESA BAMBANGAN DENGAN WC BORJU-NYA
Senin, 11 Februari 1991
Setelah subuh kami meninggalkan mushola. Semalam aku dan Imar sempat dicurigai dan harus menunjukan KTP. Sialan. Dari stasiun kereta kami menumpang colt yang mini ke terminal bis. Bayarnya 150 rupiah per orang. Kota Purwokert tampak sepi. Langitnya masih diselimuti kabut. Betul-betul hari libur.Kami menumpang jurusan Pemalang. Penuh sekali.sebagian di pintu belakang, sebagian di pintu depan. Menurut cerita Sustav, kami harus turun di bobotsari. Lucunya kami mendapat informasi yang berbeda, dibagian bis depan dan belakang. Satu jam dari Purwokerto kami turun di Bobotsari.tidak tepat di Bobotsari tap! di pertigaan sungai serayu.Langsung ada colt bak terbuka yang menunggu.Colt ini mirip truk pengangkut sapi. Bak bagian belakang yang terbuka dipasang kayu melintang di atasnya. Kalau hujan di pasang terpal. Sebagian penumpang adalah sayur-sayuran. Untungnya perjalanan ke atas mengasikan.Jalan menanjak meliuk-liuk. Desa-desa tampak masih basah dengan embun. Matahari mulai bersinar. Kehangatan mulai menjalar. Di depan kita berdiri menjulang, Sunung Slamet. Menantang setiap pendaki yang menatapnya. Puncaknya menembus awan.Tigapuluh menit kemudian kami turun di suatu pertigaan desa, entah apa namanya Setelah membayar limaratus per orang kami berjalan kaki menuju desa terakhir. Tiba di desa bambangan matahari sudah naik. Tidak ada warung yang buka. Kami minta tolong penduduk untuk memasakan supermi. Tuan rumah bercerita tentang keangkeran gunung Slamet. Seram juga. la menawarkan guide yang ongkosnya Rp.15.000,-. Mahal sekali.Walau grogi kami memutuskan untuk tidak membawa guide. Apalagi setelah ada informasi jalur dari pendaki bandung yang baru turun." Ikuti saja string line yang kami pasang " kata mereka. Aman.Di rumah penduduk kami menemui peristiwa yang lucu sekaligus menjengkelkan. Sekali masuk ke kamar mandi bayar limaratus. Sile. Di Blok M aja cuma seratus perak. Kami namakan WC borjuis. Kami berusaha masuk WC diam-diam. Selamet, kecuali Israwan yang terangkap basah dan harus bayar.Heran, tidak pos PHPA di sini. Kami pamit pada kepala Desa. Ada ondok kecil di pinggir desa. Namanya terpampang, Pondok Pemuda. Sunyi sepi tanpa penghuni. Peta yang terdapat dindingnya kami salin ulang.Sesuai dengan Informasi dari pendaki Bandung, kami mengikuti string line. Jalurnya melintasi ladang-ladang penduduk. Salam setengah jam kami tiba di shelter I. Tak ada yang istimewa, hanya tanah terbuka kosong. Tapi lumayan buat istirahat. Lima menit. Perjalanan selanjutnya mulai menanjak.Makin lama makin berat. Hutan yang kami lintasi sangat lebat, khas hutan tropis. Beban yang cuma sedikit membantu lajunya perjalanan. Langkah-langkah yang memanaskan dengkul. .Kami jalan beriringan,kompak. Shelter II kami lintasi tanpa istirahat. Semangat empat lima.Jam tiga sore kami tiba di Samarantu.Suasana sepi saat berjalan pecah kembali. Ternyata rasa lelah tidak dapat membuat teman-teman berhenti bercanda. bisini kami beristirahat agak lama. Aku teringat cerita teman SMA yang bertemu hantu di Samarantu ( berarti rumah hantu ). Entah betul atau tidak. Shelter ini hanyalah tempat datar terbuka. Cukup luas untuk membuka tenda. Dikelilingi pohon-pohon besar. Rencana untuk menginap di shelter ini di revisi. Bukan karena takut tapi hari masih sore. Legion di sini tidak ada sumber air.

MALAM JAHANAM

Limabelas menit dari Samarantu, kami menemui sumber air. Diputuskan untuk menginap.Walaupun lokasinya tidak terlalu bogus,kami punya persediaan air melimpah.Pembagian tugas dilakukan. Aku, wiwit, dan lye membuat bivack. Yang lain mengambil air, dan masak. Ketika sedang sibuk beraktiviatas, tiba-tiba muncul seseorang, gustav. Langsung saja kami saling mencaci maki. Ribut. Sustav membela diri, yang dimaksud dengan stasiun itu bukan stasiun kereta tapi stasiun bus. Cuma akal gustav yang dapat menerima. Ceritanya ia menunggu kita di terminal sampai pagi. Tahu den, mana yang bener. Kesalahan ada pada Bahasa Indonesia. Satu-satunya kegembiraan yang dibawa Sustav adalah kamera. Kekuatiran kami atas pendakian yang tidak ada fotonya hilang sudah. Pendakian tanpa foto-foto adalah sesuatu yang menimbulkan celaan di posko stapala. Begitu budaya yang ada. Dosa gustav terhapus oleh kamera.Seiring dengan datang gelap, hujan mulai turun. Deras sekali. Permasalahan lain mulai muncul. Bivack kami terlalu sempit untuk menampung 8 orang. Terpaksa harus berhimpit-himpitan. Penderitaan bertambah ketika air hujan masuk bivack. Tanah yang menurun membawa air dari atas masuk bivack. Parit kecil yang kami buat tidak dapat menampung aliran air. Terpaksa aku harus menguras setiap limabelas menit. Bivack ini memang tanggung jawabku penuh. 11 gue lupa, ini design untuk musim panas " usahaku untuk mengelak. Tetap aja celaan-celaan mengalir dengan deras.
Makin malam kondisi makin mengenaskan. Hujan mulai berhenti berganti angin. Cuaca bertambah dingin secara drastis. Badan menggigil menahan dingin. Semua saling berebut mencari posisi yang paling aman. Dinginnya minta ampun. Aku berusaha membuat api unggun, tapi sia-sia. Tidak ada sesuatu yang dapat dibakar. Semua basah. Sempitnya bivak membuat kami cuma bisa duduk.Malam berjalan dengan sangat lambat. Tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak. Gustav menghilangkan dingin dengan nyanyi keroncong. Malah menambah buruk cuaca. Israwan muntah-muntah. Sari menghabiskan parafin, berusaha menghilangkan dingin yang menyengat. Habis deh bahan bakar. Tetesan lilin juga menjadi favorit dalam menghilangkan dingin. Diteteskan diantara jari-jari kaki. malam begitu menyengsarakan.

WIWIT ULANG TAHUN DI PUNCAK SUNUNG SLAMET
Selasa, 12 Februari 1991

Renderitaan berangsur hilang ketika fajar menyingsing. Kami memutuskan untuk segera mendaki puncak gunung Slamet. Untung masih ada persediaan parafin untuk masak. Tinggal satu biji. Masih bisa bikin minuman panas. Jam 07.00 kami mulai mendaki lagi. Jalur tidak berubah, terjal. Tidak sampai satu jam kemudian kami ke luar dari hutan. Medan terbuka dengan pohon-pohon edelweis. Jalan setapak berubah menjadi dataran berbatu kerikil. Kata Sustav, nama tempat ini Plawangan. Kami tidak mudah lagi percaya. Tidak ada papan petunjuk. Jalur pendakian yang berkerikil dan terbuka membawa kami ke Puncak Gunung Slamet. Tidak terlalu menguras tenaga, hanya 1,5 jam dari plawangan.Kami tiba di Puncak sekitar jam 09.30 WiB. Pemandangan agak tertutup kabut. Di puncaknya terpancang tugu triangulasi, tanda dataran paling tinggi. Tidak terlalu luas. Tampak Puncak gunung sindoro-sumbing di sebelah timur, puncak gunung ciremai di sebelah barat, serta laut selatan dan sungai serayu di sebelah selatan. Mempesona. Awan terhampar di bawah kami, mengundang untuk berjalan diatasnya. Kami telah menembus awan. Cuaca cukup cerah.Kondisi mengenaskan semalam hilang sudah berganti kegembiraan. Makanan minuman kaleng keluar semua. Aku buka minuman paling favorit, fanta strawberry. Kami masing-masing memang punya makanan-minuman favorit. Biasanya baru dibuka di puncak. Acara foto-foto juga tidak terlupakan.dengan berbagai pose. Wiwit yang hari ini ulang tahun dipaksa push-up.

TURUN TANPA SEPATU,NYEKER
Pukul 10.30 kami semua turun. Angin di puncak semakin dingin. Puncak gunung slamet terkenal akan suhunya yang sering drop. Sudah banyak memakan korban. Kami turun dengan kecepatan tinggi. Besok Israwan, wiwit, sari ada kuliah pagi. Aku punya masalah sendiri, sepatu yang sempit membuat kuku menembus daging. Berdarah (untung ada victorinoc sari ). Aku kemudian turun tanpa sepatu. Empat jam kemudian kami semua tiba di Desa Bambangan. Setelah mengambil titipan baju, kami langsung ke Purwokerto. Jam 19.30 tiba di terminal bus. Dua jam kemudian berangkat ke Jakarta. Esoknya kumpul di Posko stapala." sialan dosennya nggak masuk" kata Sari.

Petualangan Srikandi Indonesia


Sebelum badai krisis menerpa Indonesia, dunia petualangan putri kita sempat ramai. Pada pertengahan delapan puluhan sampai pertengahan 90-an menjadi masa emas ekspedisi khusus putri Indonesia. Pemberitaan yang cukup sering berhasil memunculkan nama-nama beken dalam beragam kisah fenomenal. Sebut saja, Karina Arifin, Ita Budi, Dwi Astuti, Aryati, Jonetje Wambaruw, Diah Bisono, Clara Sumarwati, Lala, Amalia Yunita, Heni Juhaeni, Vreytha C Ilvia dan masih banyak lagi. Pada 1987, para petualang putri Indonesia berhasil menjejak puncak Imja Tse (Island Peak) setinggi 6169 meter di Himalaya, Nepal. Boleh dibilang inilah tim petualang putri Indonesia pertama yang go international. Berikutnya, 17 Maret 1988 Tim putri Aranyacala Trisakti Jakarta bikin kejutan. Mereka sukses memanjat Tower III Gunung Parang, Purwakarta. Waktu itu, terpilih tujuh pemanjat putri yang memenuhi syarat sebagai anggota inti ekspedisi. Sebut saja, Teja Sari, Amalia Yunita, Vreytha C Ilvia, Elisa, Rinto Widya Prasti, Laksmiana S dan Emma Alvita Bukit. Dalam waktu 18 hari mereka berhasil menuntaskan ”Ekspedisi Putri Parang Aranyacala 1988”.Usai sukses meraih puncak Imja Tse, pendaki putri Indonesia kembali menggeliat. Kali ini sasarannya tak tanggung-tanggung: 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa. Bila dirinci: Mont Blanc (4.807m, Perancis), Grand Paradiso (4.601 m, Italia), Monterosa (4.634 m, Swiss), Grossgiockner (3.978 m, Austria) dan Zugsptee (2.964 m, Jerman Barat). Ekspedisi yang digelar pada 1.989 itu diberi tajuk ”Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia”. Tim pendaki dibagi menjadi dua kelompok. Regu I bertugas meraih puncak Grossgiockner dan Grand Paradiso. Regu II mendaki Zugsptee dan puncak Dufourspitz – titik tertinggi dari sepuluh puncak Monterosa. Lalu kedua regu bersama-sama mendaki Mont Blanc.Di tahun yang sama, ada Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala di Bambapuang, Sulawesi Selatan. Sayang, sebelum puncak tergapai telah terjadi musibah - Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian. ”Tahun 1990 ada dua ekspedisi yang berdekatan, pertama Ekspedisi Chulu West Putri Patria Indonesia dan Ekspedisi Annapurna Putri Patria Indonesia,” ujar Dwi Astuti – petualang putri senior yang menjadi anggota Trupala dan Pataga Universitas 17 Agustus Jakarta. Ekspedisi ke Annapurna berhasil mengantarkan Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil meraih puncak Annapurna IV, Himalaya (7525 meter). Ekspedisi putri terus bergulir. Pada 1991, Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur. Prestasi luar negeri ditorehkan di Puncak Tebing Cima Ovest, Lavaredo, Italia. Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia itu berhasil membuat rute baru yang dinamai Jalur Putri Indonesia. Dalam tim ini ada delapan pemanjat: Aik, Erna, Endang, Henny, Wiona, Rina, Itut dan Nonie. Ketua ekpedisi berada di tangan Lisa (Fe-USAKTI Jakarta) dan Iyel sebagai technical advisor (Aranyacala USAKTI Jakarta). Tahun 1992, putri-putri dari Aranyacala USAKTI Jakarta kembali buat ekspedisi. Dengan bendera Ekspedisi Putri Trisakti-Indonesia, mereka sukses di bumi Amerika. Hebatnya, ekspedisi ini merupakan gabungan dari empat kegiatan: arung jeram, penelusuran gua, pendakian gua dan panjat tebing. Ada juga ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.Jonetje Wambaruw tersenyum lega saat menjejakkan kaki di puncak Aconcagua, Argentina (6.960 meter). Bersama Aryati, Lala dan Clara Sumarwati, ia mendaki titik tertinggi di Amerika Selatan itu pada Januari 1993.Tahun selanjutnya, ada Ekspedisi Putri Trisakti ke Afrika. Format petualangan Kartini-kartini muda asal Aranyacala itu sama dengan ekspedisi ke Amerika. Amalia Yunita bergabung bersama Herawati Rambe, Dini Pusianawati, Tejasari, Daisy Harsa dan Nova Novianti dalam tim Arung Jeram di Sungai Zambezi, yang melintang di dua negara Zimbabwe dan Zaire. Pada tim penelusuran gua, ada Lis Isniati, Eva Sophia Asmara dan Lyra Ramdhoni. Sedang panjat tebing: Maya Sari Arienty, Eva Maria dan Susi Susilowati dan terakhir tim pendakian gunung: Dewi Ratnasari. Konon, ekspedisi ini menelan biaya sekitar 400 juta rupiah. Sempat vakum beberapa tahun, dunia petualangan dikejutkan dengan keberhasilan Clara Sumarwati meraih puncak Everest pada 1996. Sayangnya, keberhasilan Clara menjadi kontroversi lantaran ia gagal menunjukkan foto di puncak tertinggi dunia itu. Pada 1997, Ekspedisi Putri Mapala UI merampungkan pemanjatan Bambapuang di Sulawesi Selatan. Tercatat lima pemanjat dalam tim ini: Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita. Badai krisis datang, kisah petualangan putri kita makin meredup. Mereka tak dapat membuat tim khusus putri gara-gara harus terbentur segepok perkara. Ujung-ujungnya, memang masalah dana. Kapan ya semangat Kartini berkobar lagi di arena petualangan kita? (bay)

Kisah Norman Edwin-Didiek Samsu


TIM MAPALA UI ALAMI MUSIBAH
KOMPAS - Kamis, 25 Mar 1992

Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia ke Puncak Aconcagua (6.960 meter) mengalami musibah. Berita terakhir dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cile menyampaikan hari Minggu (22/3) telah menerima telepon dari Puenta del Inca, kota terakhir di Argentina sebelum Puncak Aconcagua di Pegunungan Andes Amerika Selatan, dua orang anggota tim Mapala UI yaitu Norman Edwin(37) dan Didiek Samsu (28), mengalami musibah.Hari Senin (23/3) sekitar pukul 19.30 waktu setempat atau pukul 05.30 pagi hari Selasa (24/3), diperoleh berita dari Kedutaan Besar Argentina di Santiago, Cile, tim SAR Argentina sudah melakukan pencekan atas kemungkinan musibah itu dan sudah menemukan salah seorang dari mereka, tanpa dirinci kondisinya. Seorang lagi, sampai berita ini diturunkan masih terus dicari. Sampai berita ini diturunkan, berita musibah yang menimpa wartawan Kompas - Norman - dan wartawan Majalah Jakarta Jakarta - Didiek Samsu, masih belum dapat dikonfirmasikan peristiwa dan rincian musibah sebenarnya.

Pendakian ulang
Pendakian kedua pendaki Indonesia ini, sebetulnya merupakan pendakian ulangan. Saat pertama, rombongan ekspedisi berjumlah lima anggota (Rudy Nurcahyo, 24, Mohammad Fayez, 23, serta satu anggota putri Dian Hapsari, 24) ini sudah melakukan pendakian, tanggal 12 - 27 Februari 1992. Namun dua hari menjelang tiba di puncak, Fayez mendapat kecelakaan. "Tangan saya terkilir, lalu Norman dan Rudy menolong saya, namun kami terperangkap badai salju. Baru lima hari kemudian, kami bertiga tiba di Puenta del Inca. Sedangkan Didiek bersama Dian, sudah tiba lebih dulu ke bawah," ujar Fayez yang Jumat 13 Maret sudah tiba di Jakarta, bersama Dian.Setelah dirawat di rumah sakit, ternyata Rudy dan Norman harus diamputasi ruas jari mereka, akibat serangan radang beku (frost bite). "Norman dipotong satu ruas jari tengah tangan kirinya, sedang Rudy diamputasi satu ruas jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking tangan kirinya, serta satu ruas jari manis tangan kirinya,' tutur Fayez. Rudy harus dirawat di rumah sakit di Santiago, sedangkan Norman bersama Didiek, pimpinan dan wakil pimpinan tim pendakian - memutuskan untuk mendaki ulang."Saya bersama Dian pulang lebih dahulu, karena tiket hampir kadaluwarsa," kata Fayez.Norman yang baru sembuh, bersama Didiek mendaki lagi.Pendakian kali ini menurut rencana akan mengambil rute timur yang "normal" (berbeda dengan pendakian pertama di jalur barat yang lebih berat). Menurut rencana kedua wartawan pendaki ini, perjalanan mereka untuk mencapai puncak kelima dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dunia, hanya berlangsung antara tanggal 11 sampai 21 Maret 1992. "Saya rasa, petugas SAR yang mencatat rencana Norman dan Didiek, setelah lewat tanggal itu segera mencari.Akhirnya, ya itu, fax dari KBRI menyatakan kalau tim SAR menemukan salah satu dari mereka tanpa rincian musibahnya, serta menyebut kalau seorang lagi, entah siapa, belum ditemukan," ungkap Fayez.

Badai salju
KBRI Cile di Santiago, dikabarkan kini berupaya mendatangi langsung tempat kejadian peristiwa di Puenta del Inca. Namun menurut kabar terakhir, badai salju melanda pegunungan tengah itu, hingga helikopter carteran pun susah melintasinya. Sedangkan dari Puenta del Inca yang tak punya hubungan telepon, sumber di sana menyatakan kalau tim SAR terus sedang mencari dan mengidentifikasi musibah sebenarnya.Rektor UI Prof Dr Sujudi yang sudah menerima kabar ini langsung dari Deplu RI, menyatakan pihak UI tetap memonitor perkembangan kabar musibah ini. Serta akan menghubungi Deplu RI dan beberapa instansi terkait untuk bantuan yang dibutuhkan. Juga direncanakan, tim UI akan mengirim tim pendamping dari Jakarta dalam waktu dekat
ini.(bd/sur)


Musibah Puncak Aconcagua: Didiek Meninggal, Norman Dicari
KOMPAS - Kamis, 26 Mar 1992

Musibah Puncak Aconcagua yang menerpa dua anggota Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia di Argentina, Kedubes RI di Cile mengkonfirmasikan kalau tim SAR Argentina bersama staf KBRI, sudah mengidentifikasi satu jenazah itu Didiek Samsu (30). Sedangkan pendaki lainnya, Norman Edwin (37), sampai berita ini diturunkan masih belum ditemukan di sekitar tempat kejadian - di ketinggian 6.200 meter - menjelang puncak gunung tertinggi di benua Amerika Selatan.Dubes RI untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, menegaskan kepada Kompas: "Jenazah yang kemarin belum dapat diidentifikasi itu, kini sudah pasti Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Sedangkan Norman mungkin masih hidup, namun tim SAR sampai kini belum dapat menemukannya," ujar Sukarno melalui telepon. "Situasi medan di ketinggian 6.400 meter yang kini bercuaca buruk, menyulitkan proses evakuasi dengan helikopter. Tiga staf kami bersama Rudi Nurcahyo - anggota ekspedisi Mapala UI yang baru sembuh setelah diamputasi lima ruas jari tangannya, kini masih memonitor perkembangan SAR itu di Puente del Inca pada ketinggian 2.720 meter."Dalam teleks terakhir dari KBRI di Cile, dijelaskan Norman sebagai pemimpin tim ekspedisi yang berstatus sebagai wartawan Kompas yang mengambil cuti "di luar tanggungan perusahaan", diperkirakan mengambil rute menurun melalui Plaza Argentina yang lebih sulit, dibanding rute normal Plaza de Mulas. Dengan rute ini, Norman seharusnya sudah tiba di Plaza Argentina di Puenta del Inca pada tanggal 25 Maret pukul 18.00 waktu setempat atau 26 Maret pukul 05.00 WIB. Selanjutnya menurut teleks KBRI: Bila ternyata Norman Edwin belum tiba di Punta del Inca ... maka tim pencari yg sudah berada di lokasi sekitar Plaza Argentina akan memperpanjang pencariannya dua hari lagi.Khususnya soal Didiek Samsu, pihak KBRI di lokasi mengkorfimasi kalau kendala cuaca buruk, serta medan sulit untuk evakuasi jenazah dari ketinggian 6.400 turun ke 4.200 meter, memerlukan waktu sekitar 10 hari. Dari sana, jenazah harus dibawa lagi ke Mendoza di Argentina untuk visum dan perawatan, baru setelah itu diterbangkan helikopter ke Santiago. "Saya memperkirakan sekitar tanggal 5 April, jenazah itu baru dapat kami urus di Santiago, serta mengurus evakuasi secepatnya ke Jakarta," kata Sukarno melalui telepon perihal jenazah Didiek - pendaki gunung dan arkeolog UI, juga wartawan Majalah Jakarta Jakarta.

Musibah kedua
Norman dan Didiek - pimpinan dan wapim ekspedisi ini - di antara ketiga kawan lainnya, Rudi Nurcahyo (24), Mohammad Fayez (23) dan Dian Hapsari (24), memang terbilang jauh lebih berpengalaman dibanding ketiga rekannya. Norman dan Didiek dalam proyek UI mendaki ke-7 puncak benua di dunia, sejauh ini sudah berhasil mengibarkan bendera UI di lima puncak: Puncak Carstensz Pyramid 4.884 m di Irian Jaya, Puncak McKinley 6.194 m di Alaska AS, Puncak Kilimanjaro 5.894 m di Tanzania, Puncak Elbrus 5.633 m di eks-Uni Soviet dan kemungkinan Puncak Aconcagua 6.959 m di Argentina.Sasaran Puncak Aconcagua kali ini, merupakan lanjutan sebelum pendakian ke puncak Vinson Massif 4.877 m di Kutub Selatan dan Puncak Everest 8.848 m di Himalaya. Sebelum pendakian bermusibah ini, tim beranggota lima anggota sebetulnya sudah mendaki melalui rute Plaza Argentina yang lebih sulit dibanding jalur normal - 12 sampai 27 Februari 1992. Sayangnya datang awal musibah, hanya tinggal lima jam di saat tim sudah menjejak di ketinggian 6.400 m. Fayez terjatuh menggelinding sekitar 500 m ke bawah dan terkilir lengan kanannya, mengharuskan tim menolong dan turun kembali untuk perawatan - termasuk amputasi jari tangan - di Santiago.Setelah mendapat perawatan di Santiago, serta memulihkan kesehatan mereka, Norman dan Didiek memutuskan mengirim kembali ke Jakarta Fayez dan Dian, serta Rudi diharuskan istirahat untuk pemulihannya kesehatan. Lalu Norman yang diamputasi satu ruas jari tengah tangan kanannya, bersama Didiek kembali lagi dan menyusun rencana ekspedisi ulangan ke Aconcagua - 11 sampai 20 Maret 1992 - melalui rute normal melalui Plaza de Mulas. Kabar musibah pun tiba, KBRI di Cile pada hari Selasa 24 Maret, mengabarkan musibah Ouncak Aconcagua ini. Bahkan kini dipastikan, Didiek Samsu meningal dunia, Normal Edwin masih dalam pencarian.Sore tadi, pihak Rektorat UI sudah melaporkan musibah ini ke Deplu RI, Mensesneg dan Kantor Menpora. Juga keluarga Achmad Effendi sudah mengetahui kepastian musibah putra mereka - Didiek Samsu. Begitu pun Karina Arifin dan Melati - istri dan putri Norman Edwin, sudah menerima kabar tak menyenangkan ini. Diharapkan dalam waktu singkat, Universitas Indonesia akan mengirimkan tim pendukung yang akan bekerja sama dengan KBRI di Cile, mengurus evakuasi Didiek Samsu dan mencari Norman Edwin.(sur/bd)

Musibah Aconcagua. Badai Salju Menghambat Pencarian

KOMPAS - Jumat, 27 Mar 1992 Halaman: 1

Badai salju di Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung sejak hari Kamis (26/3) pagi sekitar pukul 05.00 pagi WIB atau malam hari Rabu (25/3) sekitar pukul enam petang waktu Argentina, menghambat pencarian Norman Edwin. "Pencari menghentikan usahanya karena badai salju itu tidak berhenti," kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon kemarin malam.Berdasarkan perhitungan Tim SAR Argentina, jika benar Norman Edwin memilih jalur ke Plaza Argentina seperti dugaan sebelumnya, hari Rabu petang sudah tiba di Plaza Argentina, base camp Tim Indonesia (4.200 meter). Tetapi karena badai tidak juga reda Tim SAR tidak bisa mencek ke Plaza Argentina apakah Norman sudah berada di sana. "Diharapkan sore nanti (hari Jumat, 27/3, subuh waktu Jakarta,Red) jika badai reda pencarian bisa dimulai lagi," tambah Sukarno. Seandainya badai salju belum juga reda, menurut keterangan Sukarno, jenazah Didiek Samsu, salah satu korban yang berada di ketinggian 6.400 meter, paling cepat baru bisa dievakuasi sebulan atau dua bulan lagi. Karena itu, "Sebaiknya mereka yang akan ke sini jangan terburu-buru berangkat. Tunggu kabar dari saya. Takutnya telalu lama di sini. Sebaiknya dikoordinasikan dulu," saran Sukarno.Dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Argentina segera diutus dua orang menuju Mendoza. "Kemungkinan yang berangkat saya dan Pak Gde Arsa Kadjari Sekretaris I," kata Medy Ch. Djufrie, Sekretaris II KBRI Argentina, kemarin ketika dihubungi melalui telepon di Buenos Aires. Mereka terutama yang akan membuat visum di Mendoza.

Kecepatan 240 km/jam

Memang cuaca adalah hambatan utama pendakian Puncak Aconcagua, setinggi 6.959 meter dari permukaan laut. Badai salju amat ditakuti oleh pesawat-pesawat yang melintas di atasnya. Pada puncaknya tercatat "badai putih" bisa terjadi dengan kecepatan 240 kilometer perjam dan bisa menurunkan suhu hingga minus 42 derajat Celsius.Bagi para pendaki Aconcagua, tantangan terberat adalah masa aklimatisasi, penyesuaian kondisi tubuh terhadap ketinggian. Dari laporan-laporan pendakian yang ada, proses ini rata-rata memakan waktu sekitar satu minggu. (tom/sur)


BADAI SALJU MASIH MENGHAMBAT PENCARIAN
KOMPAS - Sabtu, 28 Mar 1992

Hujan salju di kawasan Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung selama dua hari sejak hari Rabu (25/3), sampai berita ini diturunkan masih belum reda. "Tim evakuasi baru berangkat hari ini (Jumat siang, 27/3 waktu Argentina, Red) kalau hujan salju berhenti. Kalau masih belum berhenti tidak bisa berangkat," kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, Jumat(27/3) malam melalui telepon.Sukarno juga menginformasikan semalam, ketebalan lapisan salju di ketinggian 4.200 meter saja sudah mencapai 40 centimeter.Di tempat yang lebih tinggi dikhawatirkan salju lebih tebal lagi. Jenazah Didiek diperkirakan tertutup salju yang cukup tebal sehingga sulit ditemukan kembali saat ini. "Perlu waktu lama untuk mengevakuasinya," ungkap Sukarno.Norman Edwin sampai Jumat siang waktu Argentina masih belum diketahui berada di mana, karena belum juga kembali. Menurut perkiraan Tim SAR Argentina, kemungkinan Norman menempuh jalur turun menuju ke Plaza Argentina (4.200 meter), jalur yang lebih sulit dibandingkan jalur normal yang lebih mudah melalui Plaza de Mulas (4.200 meter di lokasi berbeda), ulas Sukarno.Kalau musin mendaki Plaza de Mulas dipenuhi oleh para pendaki karena biasanya dijadikan base camp sebelum mulai pendakian melalui jalur normal. Tetapi, "Sekarang sudah lewat musim mendakinya. Musim pendakian biasanya hanya sampai tanggal 15 Maret. Jadi di Plaza de Mulas tidak ada orang sama sekali sekarang," kata Sukarno menjelaskan.Usaha pertama Tim Pendaki Indonesia mencapai puncak Aconcagua juga melalui jalur Plaza Argentina. Mulai berangkat dari dari Puente del Inca (2.720 meter) tanggal 12 Februari dan tanggal 16 Februari seluruh anggota tim baru tiba di Plaza Argentina (4.200 meter) yang dijadikan base camp, cerita Moch. Fayez, salah satu anggota tim.Dari base camp, perjalanan mengarah ke barat. Tanggal 24 Februari seluruh tim sudah sampai di ketinggian 6.300 meter. Besoknya, tanggal 25 Februari, Norman dan Didiek, berangkat dahulu menuju puncak yang tingginya 6.959 meter. Baru kemudian disusul oleh anggota tim lainnya. Tetapi, pendakian dihentikan ketika sudah sampai di ketinggian 6.550 meter, kurang lebih 409 meter dari puncak Aconcagua, karena terhadang badai. "Padahal kami bertiga baru saja mulai mulai berangkat," cerita Fayez. Perjalanan turun diputuskan melalui Plaza de Mulas (4.200 meter).Dalam perjalan kembali ke base camp, Fayez mengalami musibah tergelincir hingga bonggol sikunya lepas. Dan, dua anggota tim lainnya, Norman dan Rudi, harus merelakan beberapa jarinya diamputasi.

Satgas khusus
Sementara itu Ketua BPLK (Badan Pembinaan Lingkungan Kampus) Universitas Indonesia, Harun Gunawan, yang juga staf Pembantu Rektor III UI, mengatakan bahwa pihak UI telah membentuk satuan tugas khusus di bawah pimpinan Purek III Merdias Almatsier sehubungan dengan musibah yang menimpa tim UI itu. Rektor UI Sujudi sendiri saat ini sedang berada di Bangkok, Thailand, sampai Selasa (31/3).Menurut Harun yang dihubungi Kompas di gedung rektorat UI kemarin, satgas ini akan mempersiapkan segala hal tentang musibah itu, termasuk penyambutan jenasah Didiek Samsu, dan pemantauan keadaan Norman Edwin. "Kami terus kontak dengan Kedubes RI di Cile," katanya.Harun juga mengatakan bahwa setidaknya sampai saat ini pihak UI belum merencanakan untuk mengirim utusan ke Argentina, karena sesuai pesan Dubes RI di Cile, dr Sukarno, saat ini di lokasi kejadian sedang terjadi badai salju berkepanjangan.Lebih jauh, Harun Gunawan juga mengatakan bahwa pihak UI tidak akan mengubah sikap dalam pemberian ijin terhadap kegiatan-kegiatan Mapala UI. Menurutnya, musibah yang telah dialami Mapala UI bukanlah baru sekali terjadi, dan kejadian itu semata kendala alam. "Kalau ada kecelakaan lalu lintas, bukan berarti lalu orang dilarang naik mobil kan ?" katanya memberikan kiasan. (sur/arb)

Norman Edwin Ditemukan Sudah Meninggal
KOMPAS - Sabtu, 04 Apr 1992

Norman Edwin, anggota Tim Ekspedisi Pendakian Puncak Aconcagua Universitas Indonesia, sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di ketinggian 6.600 meter Gunung Aconcagua, Argentina. Berita itu diterima oleh Defensa Sipil Mendoza, dari tim pendaki gunung lainnya, melalui radio komunikasi tanggal 2 April 1992, sekitar pukul 13.15 waktu Argentina, atau hari Jumat (3/4) sekitar pukul 00.15 WIB tengah malam. Tim pendaki gunung yang mengirimkan berita itu, secara kebetulan menemukan jenazah Norman Edwin Dr Jose Ignalio Ortogela, Direktur Defensa Sipil Mendoza, menyampaikan berita itu kepada KBRI di Buenos Aires, Argentina.KBRI di Santiago, Chile, mendapatkan berita itu dari KBRI Buenos Aires. KBRI Chile maupun KBRI Argentina sama-sama mengirimkan berita itu ke tanah air."Saya mendapatkan kabar ditemukan jenzah Norman dari Buenos Aires. Beritanya, ada pendaki lain yang tidak diketahui kebangsaannya menemukan jenazah Norman Edwin di ketinggian 6.600 meter. Hanya itu beritanya. Dan, belum bisa dikonfirmasi secara rinci," kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon, Jumat malam (3/4), sekitar pukul 21.00 WIB."Ketika saya ke Puente de Vacas, Komandan Tim SAR Argentina tidak menyebutkan kalau masih ada pendaki lainnya yang masih di puncak, karena memang waktu pendakian sudah ditutup tanggal 15 Maret," ungkap Sukarno menambahkan.KBRI di Buenos Aires setelah mendapatkan kabar itu juga mengutus seorang staf ke Mendoza. "Saya pagi ini segera berangkat ke Mendoza untuk mengurus segala sesuatu yang diperlukan," kata Medy Djufrie, Sekretaris II, KBRI di Buenos Aires, ketika dihubungi hari Jakarta Jumat (3/4) malam, melalui telepon.Sukarno juga sudah meminta Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi yang masih berada di Santiago segera menuju Puente de Vacas atau Puente del Inca untuk melihat pelaksanaan evakuasi jenazah Didiek Samsu yang menurut rencana akan dilaksanakan hari Minggu (5/4) waktu Argentina.

Jenazah Didiek
Didiek Samsu, anggota tim lainnya, lebih dahulu diketahui meninggal tanggal 24 Maret. Jenazah Didiek ditemukan di ketinggian 6.400 meter di Refugio Independenzia. Jenazah Didiek berada di dalam sleeping bag. Salju menutupi separuh tubuhnya mulai dari bagian ujung kaki dan sebagian tubuh dekat wajah. Di dekat jenazah ditemukan kapak es dan termos air yang sudah rusak tutupnya.Carlos Tejerina, pendaki amatir yang menemukan jenazah Didiek, juga menemukan beberapa barang, antara lain tujuh rol film, kompas, altimeter, gaiter dan beberapa tabung gas, di Refugio Berlin (6.000 meter). Carlos juga menemukan jejak menuju jalur Plaza Argentina melalui Gletzer Polacos, yang diperkirakan adalah jejak Norman.Karena itu, pencarian Norman, yang dilakukan oleh Tim SAR Argentina diarahkan di kawasan Plaza Argentina (4.200 meter).Tanggal 26 Maret, pencarian dihentikan karena kawasan dari Plaza Argentina sampai tepi Gletzer Polacos sudah disapu tanpa menemukan tanda-tanda di mana Norman berada.Menurut rencana evakuasi jenazah Didiek baru bisa dilakukan tanggal hari Minggu, tanggal 5 April sambil mencari Norman di jalur pendakian normal. Diperkirakan jenazah Didiek baru tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Sabtu tanggal 11 April. Itupun dengan syarat cuaca memungkinkan melakukan evakuasi.Posko Mapala UI memutuskan akan mengutus Sugihono Sutedjo, anggota Tim Pendakian Puncak Tujuh Benua UI, ke lokasi di Puente del Inca untuk membantu Rudi dan KBRI Argentina, KBRI Chile, koordinasi evakuasi jenazah Didiek dan Norman. Soegihono akan berangkat hari Minggu (5/4). (sur)

Musibah Aconcagua, EVAKUASI JENAZAH DIDIEK DIUNDUR HARI MINGGU
KOMPAS - Jumat, 03 Apr 1992

Evakuasi jenazah Didiek Samsu, yang meninggal dalam ekspedisi pendakian Gunung Aconcagua di Argentina, diundurkan hinggga hari Minggu (5/4), dengan syarat cuaca di lokasi cerah. Rencana evakuasi yang semula direncanakan dimulai hari Jumat (3/4)ini (Kompas, 31/3), diundurkan karena Tim SAR yang ada masih menunggu kedatangan tim SAR profesional dari San Juan tanggal 4 April.Demikian berita yang diterima Kompas dari Koordinator Posko Mapala UI, Arianto T, hari Kamis (2/3). Posko Mapala UI menerima berita itu dari Dubes RI di Cile dan Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi pendakian Aconcagua yang masih berada di Cile.Jenazah Didiek ditemukan terbujur di dalam kantong tidur di Refugio Independenzia, ketinggian 6.400 meter, tanggal 23 Maret 1992. Waktu itu, salju separuh sebagian tubuhnya dari bagian kaki dan sekitar mukanya. Di dekatnya ditemukan kapak es dan termos air.Letnan Kolonel Juan Antonio Tora, Komandan SAR Argentina menjadwalkan tim evakuasi akan berangkat hari Minggu (5/4) dari Puente de Vacas. Diperkirakan tim tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Senin (6/4), untuk aklimatisasi. Hari Selasa (7/4) tim naik ke Nido Condores, bermalam di situ. Hari Rabu (8/4) tim menuju ke Refugio Berlin (6.000 meter). Baru hari Kamis (9/4), tim evakuasi menuju Refugio Independenzia (6.400 meter) mengambil jenazah untuk dibawa ke Refugio Berlin. Hari Jumat (10/4), jenazah baru diturunkan dari Berlin ke Plaza de Mulas. Hari Sabtu (11/4) jenazah tiba Plaza de Mulas dan langsung dibawa ke Puente del Inca. Dari sana dengan mobil diangkut menuju poliklinik Uspalleta, 60 kilometer dari Plaza de Mulas, untuk pemeriksaan visum et repetum. Selanjutnya, jenazah di bawa ke Mendoza untuk dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti.

Pencarian Norman
Menurut keterangan Letkol Juan Antonio Tora, sangat kecil kemungkinan Norman Edwin masih Hidup. Tim SAR yang dipimpinnya sudah menelusuri rute pendakian Puente de Vacas-Plaza Argentina-kaki Gletzer Polacos, yang jalur yang diperkirakan diambil Norman, tidak menemukan Norman.Letkol Tora memperkirakan Norman Edwin terperosok ke dalam crevasse, celah-celah es, yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter dan selalu berubah-ubah tempatnya. Celah-celah itu pada musim panas mudah terlihat, sedangkan di musim dingin atasnya tetutup salju. Tim SAR sendiri belum menyelusuri daerah itu karena sangat berbahaya, tetapi berjanji akan meneruskan pencarian Norman apabila situasi mengizinkan.Kontak berita terakhir mengenai Norman dan Didiek, yang berangkat menuju puncak tanggal 12 Maret, dari pendaki negara lain yang berpapasan di Refugio Independenzia. Waktu itu, tanggal 19 Maret, Norman mendapat gangguan pada tangannya dan Didiek mengalami gangguan penglihatan.Seharusnya Norman dan Didiek sudah kembali ke Plaza de Mulas tanggal 20 Maret. Karena sampai tanggal itu belum juga kembali, Carlos, pendaki lokal yang berpengalaman dan memiliki lisensi SAR, dengan beberapa kawannya menuju ke atas dan menemukan jenazah Didiek sudah terbujur kaku, tanggal 23 Maret.Pencarian Norman selanjutnya dilakukan oleh enam anggota SAR Argentina pimpiman Letkol Juan Antonio Taro. Tetapi, tanggal 26 Maret karena badai dan di Plaza Argentina, lokasi sasaran SAR, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Norman, pencarian dihentikan sementara. Tim SAR Argentina Gendarmarie kemudian mengadakan koordinasi kembali yang juga dihadiri oleh Medy Ch. Djufrie, wakil dari KBRI Argentina.Kalau memang pencarian Norman akan dilanjutkan, menurut perkiraan baru pada bulan November, karena musim mendaki memang antara awal November sampai 15 Maret. Saat itu juga sudah musim panas, jadi salju sudah mencair. (sur)

EVAKUASI TERHAMBAT
KOMPAS - Jumat, 10 Apr 1992

Usaha evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin, dua pendaki anggota tim ekspedisi ke Puncak Aconcagua, Argentina, terhambat oleh tebalnya salju di lereng Aconcagua. "Tanggal 8 April (waktu Chile, Red) Tim SAR sudah sampai ke ketinggian 5.200 meter. Ternyata di sana salju tebalnya mencapai 60 sampai 70 centimeter. Terpaksa turun lagi ke Plaza de Mulas," kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, dr Sukarno Hardjosudarno ketika dihubungi melalui telepon hari Kamis malam (9/4) waktu Jakarta atau siang hari waktu Chile.Tanggal 9 April, waktu Argentina, Tim SAR merencanakan kembali naik menuju Refugio Berlin (6.000 meter). Seandainya cuaca baik, Tim SAR tiba di Berlin tanggal 10 April. Hari itu juga Tim SAR menuju ke lokasi jenazah Didiek Samsu di Refugio Independenzia (6.400 meter) untuk melakukan evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin (di ketinggian 6.700 meter) dan segera kembali ke Berlin.Jika semua berjalan lancar, tanggal 11 April jenazah sudah tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) dan tanggal 12 April tiba di Puente del Inca untuk divisum di Uspallata. Tetapi, "Ramalan cuaca hari ini (tanggal 9 April siang waktu Chile, Red) memperkirakan akan turun lagi hujan salju. Kalau benar berarti Tim SAR tidak bisa menuju lokasi," kata Sukarno memperkirakan.Berarti dua pendaki Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Mapala UI itu, yang bisa dibilang pendaki terbaik Indonesia saat ini, sampai hari ini sudah 30 hari berada di kawasan Puncak Aconcagua. Norman dan Didiek berangkat melakukan pendakian ulang tanggal 11 Maret 1992 bulan lalu. Tanggal 24 Maret Didiek Samsu ditemukan sudah meninggal di ketinggian 6.400 meter. Kemudian tanggal 2 April Norman Edwin ditemukan oleh rombongan pendaki asing lainnya sudah meninggal di lereng es dengan kemiringan 40 derajat di ketinggian 6.700 meter.Badan Pengurus Mapala UI dan anggota Mapala UI lainnya, hari Sabtu (11/4), pukul 19.30, akan mengadakan doa tahlilan bagi kedua rekan mereka di Masjid Arif Rachman Hakim Kampus UI Salemba. (tom/sur)


PLAKAT ITU AKHIRNYA TERPASANG JUGA
KOMPAS - Selasa, 26 Jan 1993

UDARA di Cementario (pemakaman) Puente Del Inca, Mendoza, Argentina, pagi itu terasa sejuk. Di tengah makam di kaki Gunung Aconcagua itu terlihat sebuah batu karang yang tertutup bendera Merah Putih. Semen di sekitar batu karang itu terlihat masih basah.Satu regu barisan kehormatan militer Ejercito Compania de Casadores Alta Montana B (pasukan ranger pegunungan tinggi) Puente del Inca, Argentina tampak mengelilingi batu karang itu dalam formasi huruf V terbalik.Di depan formasi, berdiri tegak inspektur upacara, Abdullatif Taman, Duta Besar RI untuk Argentina. Dalam sambutannya ia mengatakan, "Misi pendakian Aconcagua bagi generasi muda Indonesiaa telah selesai dengan berhasilnya tim Mapala UI mencapai puncak. Dan kini kami melengkapinya dengan memasang plakat peringatan meninggalnya saudara kami Norman Edwin dan Didiek Samsu. Semoga jasa-jasa mereka diterima di sisiNya."Kemudian, Dubes RI untuk Argentina beserta rekannya Dubes RI untuk Chile, Soekarno Hardjosudarno, melangkah bersama ke arah batu karang tertutup bendera Merah Putih. Begitu sungkup Dwiwarna itu terbuka, terpampang plakat baja putih yang bertulisan:"In memoriam Didiek Samsu Wahyu Triachdi...Norman Edwin...On Aconcagua Expedition...Mapala University of Indonesia, March, 1992"
***
UPACARA khidmat pemasangan plakat baja itu memang tidak sampai satu jam. Namun, untuk bisa memasangnya perlu waktu enam belas hari. Enam belas hari? Ya, dua hari untuk persiapan upacara, sedangkan sisanya adalah waktu pendakian Gunung Aconcagua. Syarat utama agar plakat itu terpasang adalah bendera Merah Putih bisa berkibar di Puncak Aconcagua.Syarat itu memang dibuat untuk memacu diri dalam mendaki Aconcagua. Bagaimana mungkin plakat dapat terpasang sebelum pengorbanan kedua saudara kami dapat tertebus? Pikiran serupa juga terlontar dari rekan-rekan almarhum di Jakarta, saat kami berdiskusi sebelum berangkat melakukan pendakian. Jadi, tugas kami sebenarnya sederhana. Hanya melakukan pemasangan plakat peringatan di pemakaman Puenta del Inca. Namun syaratnya yang berat, mencapai puncak Aconcagua terlebih dahulu.Kami beruntung sebelumnya telah ikut mengevaluasi kejadian musibah yang menimpa kedua rekan kami. Paling tidak sebab-sebab utama terjadinya musibah telah diketahui, dan bisa dihindari. Mengenai cuaca buruk umpamanya, kami berupaya menghindarinya dengan berangkat di awal musim pendakian pada tanggal 24 Desember 1992.Tetapi, tetap saja alam Aconcagua tidak bisa diduga. Tanggal 6 Januari 1993 terjadi badai. Padahal malam sebelumnya laporan cuaca dari radio Chile melaporkan cuaca cerah selama empat hari. Kami yang saat itu berada di Plaza Canada (4.900 m) dalam upaya aklimatisasi (penyesuaian tubuh pada ketinggian) terpaksa turun kembali. Angin dengan kencangnya menggoyang tenda. Tenda yang berbentuk kubah itu sampai hampir rata dengan tanah ditekan oleh angin. Kami tentu tak mau seharian memegangi tenda.
***
DI kemah induk Plaza de Mulas pun kondisinya sama. Sepanjang hari cuaca buruk menghantui. Hari itu, di tengah musim panas, salju turun dengan derasnya. Orang-orang Argentina sendiri heran dengan kejadian ini. Salju putih setebal lebih dari dua puluh centimeter mengalasi kemah induk. Paling kasihan adalah bagal-bagal pengangkut beban. Dalam hawa dingin yang menggigilkan itu mereka masih mendaki ke kemah induk.Hal lain yang mencemaskan di Aconcagua adalah soal aklimatisasi. Tiap pendaki yang pernah mencapai puncaknya selalu mengingatkan. "Rute normal di gunung Aconcagua itu sangat jelas. Itulah sebabnya banyak pendaki yang terlalu cepat mendaki dan melupakan aklimatisasi. Kesabaran sangat berperan di sini," kata Robert Eckhart, rekan pendaki Belanda yang kami temui di Amsterdam.Nasehat itu kami ingat. Sejak di Puente del Inca di ketinggian 2.700 meter, aklimatisasi kami lakukan dengan rajin. Kami mendaki beberapa puncak kecil setinggi 4.000 meter lebih untuk pemanasan. Bertahap kemudian kami bermalam di ketinggian 3.300 meter di Confluensia sebelum menginjak kemah induk Plaza de Mulas di 4.700 meter.Setiba di Plaza de Mulas upaya aklimatisasi ini makin jadi perhatian. Maklum selama tiga hari di sana, tiap hari selalu saja ada orang sakit turun karena badannya tidak mampu menyesuaikan diri dengan ketinggian. Keluhannya mulai yang hanya sakit kepala ringan, hingga yang dipapah karena menderita radang paru-paru.Pada hari kedua hati lebih ciut lagi. Terdengar kabar bahwa ada satu orang Yunani tewas di Refugio Berlin (5.800 m) dan tiga orang lainnya tidak sadar. Korban ditemukan dalam keadaan "mati putih" (meninggal dalam keadaan tidur kekurangan oksigen).Hari ketiga kami mulai naik ke Plaza Canada di ketinggian 4.800 meter dan tidak merasakan perubahan yang berarti. Bahkan untuk meyakinkan diri kami melakukan joging di Plaza de Mulas. Detak jantung pun normal.Hari ke tujuh kami sudah berada di Nido de Conderes pada ketinggian 5.300 meter. Pada saat itu badan sama sekali tidak merasakan perubahan yang berarti. Karena tidak merasakan perubahan yang berarti kamai terlalu terburu-buru memutuskan untuk mencapai puncak. Semangat untuk menebus pengorbanan Norman dan Didiek terlampau besar. Esok dari Nido de Condores (5.800 m) kami akan melakukan summit attack ke ketinggian 6.959 m.
***
MATAHARI belum keluar, pukul 7.00 kami sudah jalan. Angin Pasifik dan dinginnya udara menembus jari-jari tangan yang terbungkus sarung tangan wol. Ujung-ujung jari mulai mati rasa. "Ayo jalan terus!" kami berdua saling mengingatkan bila ada yang berhenti untuk menghindarkan dingin.Dengan bergerak terus tubuh jadi hangat, dan matahari mulai menampakkan sinarnya dari balik gunung juga bisa menghangatkan. Jalan ke arah Refugio Independencia (6.400 m) pun mulai tampak.Saat itu terasa kecepatan kami sudah mulai jauh berkurang. Sehingga target tengah hari dapat mencapai Refugio Independencia tidak terpenuhi. Pada pukul 13.30 baru kami mencapai Independencia. Tempat di mana jenazah almarhum Didiek Samsu ditemukan berangin sangat kencang. Kami sempat bertanya dalam hati, mengapa ia memilih tempat berlindung yang berangin seperti ini. Pertanyaan itu tak sempat terjawab karena kami harus memburu waktu untuk ke puncak.Namun serentak dengan itu serangan tipisnya udara sudah mulai tampak. Dalam melangkah terkadang untuk bisa selangkah ke depan harus disertai satu tarikan napas dalam. Kesadaran sudah mulai berkurang. Keseimbangan pun terganggu.Saat melewati jalur salju ke arah sebuah punggungan bukit, hilangnya keseimbangan ini benar-benar terbukti. Jalur yang tak begitu curam itu serasa begitu terjal bagi kami. Kami melangkah dengan begitu hati-hati sekali. Akibatnya hampir satu jam waktu terbuang percuma di jalur itu.Keadaan makin parah menjelang traverse (menyeberang) ke Canaleta, bagian terakhir menjelang puncak. Kami berjalan di tempat datar, namun serasa gamang sekali. Hingga terpaksa kami memakai crampoon (cakar es) untuk meyakinkan diri agar tidak terjatuh. Keputusan memakai Crampoon ini membuang waktu hampir setengah jam. Dalam keadaan biasa, crampoon bisa terpasang tak sampai lima menit. Namun kali ini dengan kesadaran makin berkurang, setengah mati rasanya memasang crampoon.Akhirnya pukul lima sore kami tiba di kaki Canaleta. Dengan pandangan tak pasti kami tatap ke atas. Medan dengan kemiringan lebih dari tempat puluh lima derajat, dipenuhi oleh longsoran salju dan batu setinggi tiga ratus meter terhampar di depan mata.Rasanya dengan kondisi tubuh melemah setelah beraktifitas lebih dari sepuluh jam di ketinggian lebih dari 6.000 m, melewati Canaleta adalah hal yang sangat riskan. Kami sepakat untuk turun, walaupun waktu musim panas di Aconcagua menyisakan terang hingga pukul sembilan malam.Pelajaran hari itu sangat mahal. Kami rupanya harus bersabar dengan menambah ketinggian di Refugio Berlin. Dan kondisi badan pada ketinggian rasanya makin hari makin baik. Pada hari summit attack ke dua kami benar-benar lebih siap.Kami berangkat lebih pagi. Tak sampai empat jam kami sudah di Independencia. Ada dua orang Chile yang mendaki terlebih dahulu berhasil kami susul. Selebihnya kami berkutat di Canaleta selama empat jam. Akhirnya pukul 14.20 Ripto Mulyono berhasil mengibarkan Merah Putih pertama kali di Aconcagua. Syarat pemasangan plakat peringatan Norman Edwin dan Didiek Samsu terpenuhi sudah.(Ripto Mulyono/Tantyo Bangun, keduanya anggota Tim Mapala UI yang berhasil mencapai Puncak Aconcagua)
Menolong korban Aconcagua - Mengapa tidak menggunakan helikopter ?
Mon, 18 Apr 2005 18:28:09 -0700 Didiek Samsu dan Norman Edwin, pendaki gunung Indonesia, mendapat musibah dan meninggal di Puncak Aconcagua. Sulit dan lama proses membawanya turun. Mengapa harus menggunakan kereta salju atau seekor bagal ? Mengapa tidak diangkat saja dengan helikopter ? Dua pendaki Indonesia itu ditemukan meninggal di puncak Gunung Aconcagua, Argentina, Amerika Selatan, pada ketinggian dan waktu yang berbeda. Didiek Samsu ditemukan 23 Maret pada ketinggian 6.400 m dan Norman Edwin ditemukan 2 April di ketinggian 6.600 m. Beda 200 m di ketinggian hampir 22.000 kaki. Pada ketingian 22.000 kaki itu, tebing dan lereng Aconcagua yang terjal sudah banyak diselimuti salju. Tebal salju mencapai 50-60 cm. Di tempat itulah dua pendaki Mapala UI yang sebelumnya dinyatakan hilang, ditemukan tewas oleh tim SAR Argentina, Patrulla Socorro.Mencari hilangnya kedua pendaki Indonesia itu sebelumnya menjadi pokok persoalan. Patrulla Socorro berhasil menemukan korban, meskipun harus agak lama. Memang bukan mudah mencari di antara tebing dan jurang bersalju itu. Dan setelah itu persoalan baru timbul. Bagaimana membawa kedua jenazah itu turun? Semula, banyak orang mengira bahwa untuk membawa turun jasad Didiek dan Norman, bukan soal lagi. Apalagi di zaman modern saat ini.Terbangkan helikopter ke sana, mendarat atau hovering di tempat kejadian, masukkan korban ke kabin dan terbang lagi ke bawah. Selesai. Itu perkiraan.Tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Karena ternyata helikopter memiliki kemampuan terbatas dan tidak mampu terbang kepuncak Gunung Aconcagua. Ada dua sebab utamanya, kemampuan helikopternya dan kemampuan awak pesawatnya. Mengapa sulit ?Keadaan udara pada ketinggian 6.600 m atau hampir 22.000 kaki dihitung dari permukaan laut, entah itu di puncak gunung atau di awang-awang,bukanlah keadaan yang menguntungkan bagi manusia maupun helikopter. Manusia, siapa saja, akan terpengaruh. Pada ketinggian 22.000 kaki itu keadaan tekanan udara sudah menjadi kurang dari separo tekanan di permukaan laut, menjadi 335 mmHg. Kadar oksigennya sudah sangat tipis, persentasenya sangat kecil dibandingkan kadar oksigen di darat. Suhunya ? Sudah sangat dingin, 24,6 derajat Celcius di bawah nol, atau minus (-) 24,6 derajat. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg atau setengah tekanan oksigen di darat. Tekanan di permukaan laut 760 mmHg dan tekanan parsiel O2-nya 160 mmHg dengan berat udara 14,7 pon per square inch (PSI). Pada keadaan itu, orang tidak akan tahan tanpa bantuan alat, seperti selimut/baju tebal atau masker oksigen untuk membantu pernafasan. Dan situasi udara setengah atmosfir ketinggian 18.000 – 20.000 kaki itu dijadikan standar untuk menguji penerbang maupun calon penerbang, karena situasi udara di tempat itu sama dengan setengah atmosfir. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg atau setengahnya tekanan oksigen didarat. Dalam ujian kemampuan calon penerbang di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) ‘dr. Saryanto’, para calon dimasukkan ke dalam altitude chamber. Mereka duduk berderet dan diberi persoalan. Soal hitungan itu bentuknya sangat sederhana dan sangat mudah seperti 2+2, 3+2, 4+3 dan sejenisnya. Setelah mereka siap, kemudian ruang dibuat sama dengan kondisi pada ketingian 18.000 kaki.Semua calon mulai mengerjakan soal yang ada di tangannya. Tidak lebih dari 20 menit. Apa yang terjadi? Pengaruh ketinggian mulai nampak. Sebagian besar mereka tidak mampu mengerjakan dengan benar soal hitungan kelas 1 SD permulaan itu. Malah ada yang linglung, dipanggil diam saja. Mereka sudah tidak mampu menguasai diri. Itulah tanda-tanda ia terkena hipoksia, kekurangan gas oksigen. Secepatnya petugas ruang (yang selalu mengenakan masker oksigen), membantu calon tersebut menggunakan masker oksigen yang tersedia didepannya, sebelum calon penerbang itu jatuh pingsan. Keadaan seperti itu pun terjadi di puncak gunung, seperti Aconcagua yang tingginya lebih 18.000 kaki. Karena itulah maka pendaki gunung pun harus melakukan uji kemampuan dalam altitude chamber seperti para calon penerbang. Sama halnya dengan orang terbang di awang-awang terbuka, maka menuju ketinggian dengan cara mendaki gunung, akan terkena pengaruh ketinggian. Bedanya, bila dengan pesawat terbang, reaksi pengaruh berlangsung cepat karena pencapaian ketinggian dapat dilakukan dengan cepat. Bagi pendaki gunung, untuk mencapai ketinggian seperti Aconcagua itu ditempuh dalam beberapa hari, sehingga selama perjalanan, penyesuaian dengan keadaan lingkungan berlangsung. Namun, apa pun cara mencapai ketinggian itu, daerah di ketinggian di atas 18.000 kaki bukanlah tempat hidup manusia. Karena di sana atmosfir memiliki keadaan yang tidak lengkap, kurang dari separo keadaan di darat tempat habitat manusia. Rendahnya tekanan parsiel gas oksigen menyebabkan tekanan parsiel dalam paru-paru juga menjadi rendah, akibatnya orang akan kekurangan oksigen, hypoxia. Seseorang yang berada pada situasi yang tekanan parsiel gas O2-nya turun 25 persen saja, akan terkena pengaruh menurunnya kecerdasaan berfikir. Karena itulah, maka suatu penerjunan bebas yang tanpa menggunakan masker oksigen, hanya boleh dilakukan dari ketinggian terbang maksimum 10.000 kaki, batas toleransi manusia pada ketinggian.Cepat lambatnya seseorang terpengaruh hipoksia, tergantung pada kondisi tubuh, umur, latihan, aktifitas tubuh, kepekaan seseorang serta pengalaman terhadap pengaruh hipoksia (lihat tabel).Semakin tinggi, orang lebih cepat terkena pengaruh hipoksia. Pada ketinggian 50.00 kaki atau 15.240 m dengan suhu (-) 56,5 derajat Celcius dan tekanan parsiel oksigen yang tinggal 20 mmHg, maka orang hanya bisa bertahan tidak lebih 10 detik saja. Mengapa heli tidak bisa ? Suatu proses pertolongan korban kecelakaan pesawat terbang di gunung yang tingginya 5.000 kaki, terkadang mengalami kesulitan. Bukan helikopternya yang tidak mampu, tetapi justru keadaan cuaca yang seringkali tidak mendukung. Helikopter terbang pada ketinggian 5.000 kaki masih bisa dilakukan. Tetapi terbang pada 22.000 kaki seperti di Gunung Aconcagua, adalah persoalan. Helikopter bisa terbang karena timbulnya gaya angkat pada baling-baling rotor yang berputar. Karena itulah maka helikopter disebut juga rotary wing. Dan untuk mampu mengangkat helikopter beserta isi kabinnya, diperlukan tenaga gaya angkat yang besar. Di daerah rendah, gaya angkat mudah terjadi, karena udara yang padat. Dengan gaya angkat yang besar itu, maka helikopter mampu malakukan hovering, melayang di tempat, untuk melakukan pertolongan beberapa menit. Untuk hovering diperlukan gaya angkat yang lebih besar dari pada gaya yang diperlukan untuk terbang biasa. Di ketinggian 22.000 kaki, helikopter tidak akan mendapatkan gaya angkat yang diperlukan, karena renggangnya udara. Apalagi untuk hovering yang mesti dilakukan sebuah helikopter di saat akan take-off, waktu mendarat atau sedang menolong korban di daerah yang sulit. Karena tidak selalu bisa mendarat, maka digunakan cara hoist, menurunkan dan menaikkan penolong serta korban melalui kabel baja penarik yang dipasang di sisi kiri/kanan helikopter. Dengan cara ini mengharuskan helikopter melakukan hovering. Masalah lain adalah awak pesawat dan tim penolongnya. Mereka tidak akan mampu berlama-lama di ketinggian 22.000 kaki tanpa bantuan oksigen. Mereka juga harus menjaga diri agar tidak hipoksia. Sulit memang. Itulah sebab mengapa helikopter tidak digunakan dalam pertolongan di Gunung Aconcagua. Tingginya tempat, kencangnya angin di puncak, sampai 240 km/jam dan badai salju, membahayakan siapa saja yang ada di sana termasuk helikopter. Karena itu, mereka memilih menggunakan kereta salju dan bagal. (soe)
Norman Edwin 1955 - 1992
Norman Edwin sosok pecinta olahraga petualang yg pernah ada di Indonesia, di kenal sebagai pribadi yg pemberani dan suka menolong oleh keluarga dan teman2nya sesama jurnalist Kompas, tempat terakhirnya bekerja. Norman tewas di usia 37 tahun bersama rekan satu teamnya Didiek Samsu Wahyu Triachdi saat pendakian Puncak Aconcagua (6969m), pegunungan yang membentang sepanjang perbatasan Chile - Argentina, saat itu ia tergabung dalam Seven Summit Expedition 1992 - Mapala UI. Didiek juga tercatat sebagai wartawan di Majalah Jakarta Jakarta.
Indonesia berduka, musibah menimpa Expedisi Seven Summit pada pertengahan April 1992 merenggut dua orang pendaki terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Media nasional dan international banyak meliput kejadian tewasnya dua pendaki ini. Norman saat itu memimpin Team Pecinta Alam Universitas Indonesia yang tergabung di Mapala UI dalam upayanya mendaki Puncak Aconcagua 6959-mtr Chile. Gunung yg disebut juga 'The Devil's Mountain' karena faktor cuacanya tak bisa diprediksikan, sering kali badai salju melanda pegunungan selama berhari hari. Puncaknya dijadikan tujuan karena menjadi salah satu Puncak Tertinggi dalam Expedisi Tujuh Puncak Dunia Mapala UI.
Berbekal pengetahuan dalam Penelusuran gua, Pendakian Gunung, Pelayaran, Arung Jeram serta sejumlah pengalaman Rescue di Irian Jaya, Kalimantan, Africa, Canada bahkan Himalaya, membentuk kecepatan dan kekuatan phisik pada dirinya yang telah bergabung di Mapala UI sejak tahun 1977. Sampai akhirnya terpilih menjadi Leader dalam Expedisi ini bersama Didiek, Rudy "Becak" Nurcahyo, Mohamad Fayez and Dian Hapsari, satu2nya wanita dalam team tersebut.
Sebetulnya banyak meragukan kemampuan Norman, jauh hari sebelum Expedisi ini di mulai, namun pengalamannya selama 15 tahun dalam berpetualang serta menghadapi berbagai bahaya, diyakini membuatnya tetap berangkat. Saat expedisi berlangsung, badai salju menghantam Team ini dan akhirnya merenggut duet pendaki ini. Jenazah Didiek adalah yang pertama ditemukan pada tanggal 23 Maret atas laporan beberapa pendaki negara lain yang kebetulan melihat mereka berdua terakhir di ketinggian 6400m, beberapa ratus meter lagi sebelum Puncak.
Dilaporkan pula saat itu, kondisi keduanya terlihat sangat kritis, beberapa jari Norman terkena Frosbite (Mati Beku karna Dingin) dan Didiek menderita Snow Blindness (Buta Salju) akibat pancaran sinar matahari yang berlebihan, memantul di hamparan salju dataran tinggi. Kemungkinan hal ini sangat mendekati karena Google (Kacamata Salju) yang dipakai Didiek rusak berat. Jenazah Norman ditemukan beberapa hari kemudian dan langsung diterbangkan ke Jakarta pada tanggal 21 April 1992. Spekulasi merebak melalui media massa bahwa kegagalan mereka juga diakibatkan karena minimnya pelaralatan yang dibawa. Aconcagua terpilih setelah Mapala UI merencanakan Expedisi Tujuh Puncak Dunia lainnya yaitu Cartenz Pyramid (4,884 meters) di Irian Jaya; McKinley (6,194 meters) di Alaska, Amerika Serikat; Kilimanjaro (5,894 meters) in Tanzania, Afrika; dan Elbrus (5,633 meters) di Uni Soviet, (sekarang Rusia). Setahun kemudian setelah tragedi ini, Mapala UI yang status keanggotaannya berlaku seumur hidup ini, mencoba mengirim kembali dua anggota lainnya yaitu Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono untuk menyelesaikan pendakian sekelas Expedisi Aconcagua ke Vinson Massif (4,887 meters) di Kutub Selatan. Dan satu lagi Puncak Everest di Himalaya dengan nama Team Expedisi Universitas Indonesia, namun sayang kegagalan juga menimpa team ini.
Dua kegagalan rupanya tidak menyurutkan semangat Mapala UI, karna puncak terakhirnya tetap dijadikan target bagi Expedisi Gabungan selanjutnya yang terdiri dari Mapala UI, Koppassus dan Wanadri. 'Kami berusaha melakukan pendakian gabungan ke Everest tahun 1997 dan sukses, dua anggota team dari prajurit Koppassus yaitu Asmujiono dan Misirin berhasil mencapai Puncak Everest.' ujar Rudy "Becak" Nurcahyo anggota Indonesian National Team to Everest yang juga kehilangan jarinya karna Frosbite di Expedisi Aconcagua.
'Kami mencoba yang tebaik untuk mewujudkan itu semua.. dan saya percaya Norman dan Didiek pun akan tersenyum disana melihat keberhasilan Team Everest ini. walaupaun setelah tahun 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi kemudian masa reformasi yang tak lama berselang. Keadaan ini otomatis ini menghambat Expedisi-expedisi selanjutnya yang telah direncanakan.. tambahnya.
Bagi istri Norman, Karina serta Melati putrinya, sosok hangat dan eksentrik Norman akan tetap menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Semasa hidup, Melati selalu diajak serta dalam kegiatan alam bebas yang digeluti ayahnya itu, termasuk perjalanan ke Irian Jaya saat ia masih kecil. 'Norman menjadi seorang petualang sejati dan sedikit bandingannya diantara pendaki-pendaki yang ada sekitar tahun 1970-80, dan Didiek adalah teman dekatnya. Ia tunjukkan rasa hormatnya kepada wanita dan yakin bahwa wanita dapat mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada pria, apalagi menyangkut faktor keselamatan, contohnya Penulusan Gua' papar Karina yang dulu juga aktif dalam kegiatan alam bebas sekembalinya dari Australia dan mengambil kuliah lagi jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia.
'Norman pernah mengatakan, aktivis alam wanita cenderung lebih tenang, tidak mudah panik dan dapat mengatasi situasi darurat jika dibandingkan dengan pria. Bagi saya ia sangat humoris dan mempunyai semangat hidup yang tinggi. Begitu pula yg rasakan Melati, sifat ayahnya ini menurun kepadanya walaupun ia masih berusia remaja. Janganlah kita mencoba menaklukkan ganasnya alam, tapi belajarlah untuk menaklukkan ego serta mengetahui batasan diri kita sendiri, faktor ini adalah yang terpenting jika ingin menekuni olahraga beresiko tinggi' ungkap Karina yang dulu juga ikut dalam team di Expedisi Cartenz Irian Jaya tahun 1981 dan saat ini telah menyelesaikan program Doctoralnya di Australian National University.
Norman dan Didiek telah tiada, namun spiritnya kuat meresap di hati para pecinta olahraga alam bebas Indonesia. Penghargaan patut mereka terima atas keberanian dan semangat pantang menyerah, sehingga dapat dijadikan contoh bagi petualang2 muda lainnya yang masih ada.
So long my friend.. we'll see you up there..
from : TheJakartaPost/(Edith Hartanto)